STATISTIK
A. PENDAHULUAN
Data berbentuk jamak, sedang datum
berbentuk tunggal. Jadi data sama dengan datum-datum. Data ialah suatu bahan
mentah yang jika diolah dengan baik melalui berbagai analisis dapat melahirkan
berbagai informasi. Dengan informasi tersebut, kita dapat mengambil suatu
keputusan. Dalam statistik dikenal istilah-istilah jenis data, tingkatan data,
sumber data, penyajian data, analisis data. Data dianalisis sesuai jenis dan
tingkatannya, karena itu masing-masing tingkatan data mempunyai analisis
sendiri khususnya dalam analisis korelasi.
Data yang baik tentu saja harus
muthakhir, cocok dengan masalah penelitian dari sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan, lengkap, akurat, objektif, dan konsisten. Pengumpulan
data sedapat mungkin diperoleh dari tangan pertama. Data yang baik sangat
diperlukan dalam penelitian, sebab bagaimanapun canggihnya suatu analisis data
jika tidak ditunjang oleh data yang baik, maka hasilnya kurang dapat
dipertanggungjawabkan.
B. JENIS DATA
Jenis data secara garis besarnya dapat dibagi
menjadi dua macam yaitu data dikhotomi dan data kontinum.
1.
Data Dikhotomi
Data dikotomi disebut: data deskrit,
data kategorik atau data nominal. Data ini merupakan hasil perhitungan,
sehingga tidak dijumpai bilangan pecahan. Data dikotomi adalah data yang paling
sederhana yang disusun menurut jenisnya atau kategorinya. Bila kita telah
memberikan nama kepada sesuatu berarti kita telah menentukan jenis atau
kategorinya menurut pengukuran kita. Dalam data dikotomi setiap data
dikelompokan menurut kategorinya dan diberi angka. Angka-angka tersebut
hanyalah label belaka, bukan menunjukan tingkatan (ranking). Dasar dalam
menyusun kategori data tidak boleh tumpang tindih (mutually exclusive). Kalau
kita melakukan kategori secara alamiahnya, maka disebut data diktonomi
sebenarnya (true dicthomi) dan jika kategorinya dibuat-buat sendiri
(direkayasa), maka disebut dikotomi dibuat-buat (artifical Dichotomi).
Contoh dari data dikotomi sebenarnya
antara lain adalah: jenis kelamin umpamanya ada tiga yaitu laki-laki diberi
angka 1, banci diberi angka 2 dan perempuan diberi angka 3. Anka 3 pada wanita
bukan berarti kekutan wanita sama dengan tiga kali laki-laki. Demikian pula
bansi sama dengan dua laki-laki. Tetapi seperti disebutkan tadi bahwa
angka-angka tersebut hanyalah label belaka. Banyak contoh-contoh data dikotomi
sebenarnya ini seperti macam warna kulit, suku bangsa, bahasa daerah, dan
sebagainya.
Data dikotomi dibuat-buat apabila
data itu mempunyai katergorik mutlak atau alamiah seperti di atas tadi, oleh
sebab itu data tersebut masih dapat
diubah-ubah jika memang dikehendaki. Sebagai contoh: tidak lulus diberi angka 1
dan lulus diberi angka 2. Tetapi jika yang tidak lulus ingin kita ubah menjadi
lulus, maka kita dapat saja mengadakan ujian ulangan. Seperti dengan uraian di
atas tadi bahwa pemberian angka pada data dikotomi ini hanyalah label belaka.
Bukan berarti yang tidak lulus bodohnya dua kali yang lulus.
Data dikotomi ini mempunyai
sifat-sifat ekskuisif, tidak mempunyai urutan (ranking), tidak mempunyai ukuran
baru, dan tidak mempunyai nol mutlak.
2.
Data Kontinum
Data kontinum terdiri atas tiga macam
data yaitu: data ordinal, data interval, dan data rasio. Ketiga macam
data-data tersebut diuraikan seperti berikut ini:
a.
Data Ordinal
Data ordinal ialah data yang sudah diurutkan dari
jenjang yang paling rendah sampai ke jenjang yang paling tinggi, atau
sebalikntya tergantung peringkat selera pengukuran yang subjektif terhadap
objek tertentu. Kita dapat menyatakan bahwa saya lebih suka jeruk A daripada Jeruk
B meskipun sama-sama tergolong jenis jeruk. Selanjutnya jeruk B kita beri bobot
1 dan jeruk A kita beri bobot 2. Pembobotan biasanya merupakan urutannya. Oleh
sebab itu, data ordinal disebut juga sebagai data berurutan, data berjenjang,
data berpangkat, data tata jenjang, data ranks, dan data petala, data bertangga
atau data bertingkat.
Pemberian jenjang tersebut pada umumnya dapat
dilakukan sebagai berikut:
Mula-mula kita urutkan data itu mulai dari data
yang terendah sampai data yang tertinggi. Demikian pula sebaliknya. Kemudian
berilah angka 1 untuk yang tertinggi, angka 2 pada yang berada di bawahnya dan
seterusnya.
Sebagai contoh:
1)
dalam suatu pertandingan angkat
besi, baka didapatkan data berjenjang sebagai berikut:
· Juara 1 mampu mengangkat 400 Kg
· Juara 2 mampu mengangkat 390 Kg
· Juara 3 mampu mengangkat 325 Kg
· Juara 4 mampu mengangkat 200 Kg
Kalau melihat contoh tersebut, maka yang menjadi
pertanyaan ialah:
"Bagaimana kalau kemampuan mengangkat besi ada dua
orang yang sama nilainya, misalnya 325 Kg?", untuk menjawab pertanyaan
ini, maka:
2)
Juara 1 tetap mampu mengangkat
400 Kg
Juara 2 dan 3 menjadi (2+3 )/2
· Juara 2,5 yang mengangkat 325 Kg
· Juara 2.5 yang mengangkat 325 Kg
· Juara 4 yang mampu mengangkat 200 Kg
Kalau yang mampu mengangkat 325 Kg ada tiga orang, maka:
3)
Juara 1 tetap yang mampu
mengangkat 400 Kg
Juara 2,3, dan 4 tida ada tetapi
menjadi juara (2+3+4)/3 = 3
· Juara 3 yang mampu mengangkat 325 Kg
· Juara 3 yang mampu mengangkat 325 Kg
· Juara 3 yang mampu mengangkat 325 Kg
Demikian seterusnya.
Kalau contoh 1) tadi kita gambarkan, maka
didapatkan gambarnya sebagai berikut:
Gambar 2.1: Jenjang (ranking)
Berdasarkan Gambar 2.1 tadi, maka dapatlah dijelaskan
bahwa dalam data ordinal:
1)
Angka-angka urutan 1,2,3,4 dan
seterusnya hanyalah sebagai nomor urut belaka.
2)
Ukuran ordinal tidak menyatakan
nominal absolut, oleh sebab itu jenjang 1 misalnya, bukanlah berarti 4 x
kekuatan angkat jenjang 4 atau 4 x 200 Kg = 800 Kg. Sebaliknya, jenjang 4
misalnya, bukanlah berarti 1/4 x angkatan jenjang 1 atau 1/4 x 400 Kg = 100 Kg.
Contoh-contoh data ordinal lainnya adalah:
golongan gaji, pangkat, pendidikan mulai Taman Kanak-kanak sampai Perguruan
Tinggi, status sosial (tinggi, menengah, dan rendah), Daftar Urutan kepegawaian
(DUK), dan sebagainya. Data ordinal ini lebih tinggi kedudukannya dibandingkan
dengan data nominal. Dalam dunia pendidikan, dapat diberikan contoh sebagai
berikut:
Ketika akan diadakan ujian, para peserta
diberikan nomor ujiannya masing-masing. Penomoran terhadap semua peserta
disebut peserta yang masuk nominasi. Kemudian proses ujian berlangsung.
Akhirnya diadakan pengumuman peserta yang mendapat ranking tertinggi (nomor
1,2, dan 3) dan seterusnya.
Berdasarkan contoh ini, maka jelaslah bahwa
penomoran ketika sebelum ujian yaitu nomor ujiannya hanyalah label belaka.
Peserta nomor ujiannya mendapat nomor 1, belum tentu mendapat ranking 1, dan
seterusnya. Bisa saja yang nomor ujiannya yang bukan nomor 1 mendapat ranking
1. Ranking tersebut tentu saja sangat ditentukan oleh banyaknya soal ujian yang
dapat dijawab dengan benar, sehingga didapat nilai yang lebih tinggi.
Data ordinal bersifat ekskuisif, mempunyai
urutan, tidak mempunyai ukuran baru, dan tidak mempunyai nilai nol mutlak.
b.
Data Interval
Data interval mempunyai sifat-sifat nominal
dari data ordinal. Di samping itu ada sifat tambahan lainnya pada data interval
yaitu mempunyai nol mutlak. Akibatnya ia mempunyai skala interval yang sama
jaraknya. Pengukuran data interval tidak memberikan jumlah yang absolut dari
objek yang diukur. Contohnya adalah sebagai berikut: Dalam Indeks Prestasi
Kumulatif (IPK) mahasiswa dikenal standar-standar penilaian sebagai berikut:
A = 4, B = 3, C = 2, dan D = 1.
Gambarnya sebagai berikut:
Gambar
2.2: Data Interval
Berdasarkan gambar tadi, dapat disebutkan
bahwa:
IPK A = 2, IPK B = 3, IPK C = 2, dan IPK D = 1
Interval antara A dengan B = 4 - 1 = 3
Interval antara B dengan C = 3 - 2 = 1
Interval antara C dengan D = 2 - 1 = 1
Interval antara A dengan C = 4 - 2 = 2
Interval antara B dengan D = 3 - 1 = 2
Interval antara A dengan D = 4 - 1 = 3
Interval antara A dengan D - Interval D dengan
C =
= (A - C) + (C - D)
= (4 - 2) + (2 - 1)
= 3
Jadi data interval dapat ditambah maupun
dikurangkan. Walaupun demikian, tidak dapat disimpulkan bahwa kepandaian atau
keberhasilan A adalah empat kali keberhasilan B. demikian pula tidak dapat
disimpulkan bahwa keberhasilan A adalah dua kali B atai tiga kali C.
Contoh-contoh lainnya dari data interval
adalah: persepsi, tanggapan, dan sebagainya. Dalam penelitian sosial data
interval paling banyak digunakan.
Data interval bersifat Ekskuisif, mempunyai
urutan, mempunyai ukuran baru, tetapi tidak mempunyai nilai nol mutlak.
Data Rasio
Data rasio mengandung sifat-sifat interval,
dan selain itu ia mempunyai nilai nol mutlak. Contoh dari data rasio di
antaranya adalah: berat badan, tinggi, panjang, atau jarak. Misalnya kita
mempunyai data panjang A = 10 m, B = 20 m, C = 30 m, dan D = 40 m. kalau
digambarkan akan menghasilkan gambar seperti berikut:
Gambar
2.3: Data Rasio
Berdasarkan gambar tersebut di atas, maka kita
dapat menyimpulkan bahwa panjang D = 4 x A atau 2 x B. Panjang B dapat disebut
sebagai 2 X A atau 1/2 x D, dan seterusnya. Data rasio ini sering dipakai dalam
penelitian keilmuan atau enjinering. Karena data rasio, ordinal, dan interval
merupakan hasil pengukuran, maka pada ketiga data tersebut ditemui adanya
bilangan pecahan. Data rasio bersifat ekskuisif, mempunyai urutan, mempunyai
ukuran baru, dan mempunyai nol mutlak.
C. TINGKATAN DATA
Tingkatan data kalau diurutkan dari yang
tertinggi ke yang terendah yaitu: 1) rasio, 2) interval, 3) ordinal, 4)
nominal. Dalam analisis statistik, jika perlu, maka data yang tinggi dapat
diturunkan ke tingkatan yang lebih rendah. Tetapi sebaliknya, data yang
tingkatannya rendah tidak dapat dinaikan kepada tingkatan yang lebih tinggi.
Tingkatan data diilustrasikan seperti gambar 2.4 di bawah ini:
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
Gambar 2.4: Tingkatan Data
|
|
D. SUMBER DATA DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Data dapat dikumpulkan langsung oleh peneliti
melalui pihak yang disebut sumber primer. Data-data yang dikumpulkan oleh
peneliti melalui pihak kedua atau tangan kedua disebut sumber sekunder, yaitu
data yang diperoleh melalui wawancara kepada pihak lain tentang objek dan
subjek yang diteliti, dan mempelajari dokumentasi-dokumentasi tentang objek dan
subjek yang diteliti. Dari kedua macam sumber data tersebut, tentu saja sumber
data primer lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada data yang didapat
melalui sumber sekunder. Teknik-teknik pengumpulan data dapat dilakukan
melalui: wawancara (interview), pengamatan (observation), angket (kuesioner),
dan dokumentasi (documentation). Wawancara dapat sistematisd atau tidak
sistematis. Pengamatan dapat tidak langsung atau langsung. Angket dapat
tertutup atau terbuka. Peneliti dapat menggunakan salah satu atau gabungan dari
tehnik-tehnik pengumpulan data di atas. Masing-masing tehnik mempunyai
keuntungan dan kerugiannya. Penjelasan lebih lanjut tentang ini dapat
dipelajari dalam buku-buku Metodologi Penelitian antara lain karangan Husaini
Usman. Tehnik pengumpulan data secara ringkas digambarkan seperti gambar 2.5
berikut ini:
|
|
 |
E. ANALISIS DATA
Analisis data untuk masing-masing tingkatan
(skala) data dapat dilakukan seperti tabel 2.1 berikut ini.
TABEL 2.1
ANALISIS STATISTIK YANG COCOK UNTUK EMPAT SKALA DATA
|
Skala
|
Hubungan yang
|
Statistik yang cocok
|
Tes statistik yang cocok
|
|
NOMINAL
ORDINAL
INTERVAL
RASIO
|
(1) Ekuivalensi
(1) Ekuivalensi
(2) Lebih besar dari
(1) Ekuivalensi
(2) Lebih besar dari
(3) Rasio sembarang dua interval diketahui
(1) Ekuivalensi
(2) Lebih besar dari
(3) Rasio sembarang dua interval diketahui
(4) Rasio sembarang dua harga interval
diketahui
|
Modus
Frekuensi
Koofisien kontingensi
Median
Persentil
Spearman rs
Kendall t
Kendall W
Mean (rata-rata)
Simpangan baku
Korelasi momen hasil
Kali person
Korelasi momen Hasil
Kali Ganda
Mean Geometrik
Koefisien Variasi
|
Non-Parametrik
|
F. RINGKASAN
Jenis data statistik yaitu dikotomi dan
kontinum. Data kontinum terdiri atas: ordinal, interval, dan rasio. Semakin
tinggi tingkatannya, semakin tinggi pula keterandalan pengukurannya.
Data dikotomi berkenaan dengan hasil
perhitungan, sehingga tidak ada bilangan pecahan, sedangkan data kontinum
berkenaan dengan hasil pengukuran, sehingga ditemukan bilangan pecahan.
Jenis dan tingkatan data ini menentukan tehnis
statistik yang cocok digunakan.
Data mempunyai sifat-sifat yang seperti tabel
2.2
TABEL
2.2
SIFAT
JENIS DATA
|
|
Eksklusif
Dan beda
|
Urutan
|
Ukuran baru dan jarak
|
Nol mutlak
|
Ukuran pusat
|
Ukuran dispersi
|
Uji signifikansi
|
|
Nominal
|
V
|
-
|
-
|
-
|
Mode
|
-
|
X2
|
|
Ordinal
|
V
|
V
|
-
|
-
|
Median
|
Kuartil
|
Korelasi Rank
|
|
Interval
|
V
|
V
|
V
|
-
|
Mean
Aritmatik
|
SD
Varians
|
t,F
|
|
Rasio
|
V
|
V
|
V
|
V
|
Mean geometrik
|
Coefisien
Varians
|
t,F
|
Berdasarkan tabel 2.2, maka dapat diketahui
bahwa data yang tertinggi tingkatnya adalah rasio dan yang terendah adalah
nominal, data itu dapat diskala, sehingga disebutlah skala nominal, skala
ordinal, skala interval, dan skala rasio. Tingkatan tertinggi jika perlu dapat
diturunkan ke tingkatan yang lebih rendah. Tetapi sebaliknya tingkatan yang
lebih rendah tidak dapat dinaikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Data diperoleh dari sumber data yang langsung di
sebut sumber sata primer. Sedangkan sumber data yang tidak langsung disebut sumber
data sekunder. Tehnik pengumpulan data ada empat macam. Semua tehnik ini
dijelaskan lebih medalam dalam buku metodologi penelitian.
Data, tabel, histogram, poligon frekuensi, dan
ozaiv (ogive) bentuk penyajiannya dapat dilihat pada modul 3.