Statistik dibagi menjadi 2 macam :
Parametrik : untuk banyak subjek
Non parametric : untuk sedikit subjek
Statistik sebagai alat untuk menghitung, menganalisis data, mengubah data.
Beberapa teori tentang kuantitas subjek
Batas banyak dan sedikit adalah 12 orang
Batas banyak sedikit adalah 30 orang ( umum )
Batasnya 100 orang
Parametrik
Kurva normal, banyak dan sedikit jumlah sama.
Non parametric
Kurva tidak normal, tergantung kuantitas subjek
Populasi dan sample
Populasi : kumpulan subjek dalam 1 tempat ( bagian keseluruhan )
Sample : bagian dari populasi syarat -> populasi harus homogeny
Konsep sample dan populasi
Homogen : sample diambil sebagian kecil
Heterogen : sample tidak dapat diambil
S. Deskriptif : Statistik yang mengambil dari populasi
S. inferensial : dengan menghitung sample yang mewaikili populasi ( kesimpulan pada popuilasi )
Data
1. Ordinal
2. Nominal
3. Rasio
4. Interval
Data sederhana : diskip dan kontinyu
Diskrip : data dengan 2 pilihan / pasti , tidak bias dipecah pecah
Continue : data yang menggunakan penyerdehanaan ( contoh : umur, BB , dll )
Contoh : 1. Jumlaah IQ 110 /120/100 deskrip, 2. Jenis iq superior average continue
Teknik sampling
Teknik mengambil sample
Pendekatan random
Semua subjek punya peluang / hak yang sama jika memakai pendekatan ini harus memiliki kerangka subjek
Stratifikasi : bertingkat, sebagai cara untuk melihat suatu subjek tersebut homogen atau tidak
Proporsional : mengambil subjek dari segala stratifikasi , namun secara proporsional
Quota : mengambil berapa pun jumlah sample tanpa memperdulikan populasi, jumlah yang bias diterima dengan angka
Area : suatu tempat yang memiliki situasi berbeda
Cluster : penunjukan populasi yang relative kecil dan ada kesamaan
Pendekatan Non random
Semua subjek punya peluang yang tidak sama
Purposive : teknik yang memiliki tujuan dan spesifik
Insidental : tidak berpatokan pada apapun ( asal asalan )
Paling utama memakaii pendekatan random, kalau tidak nilai kesimpulan akan lebih rendah
Statistik inferensial :
Mengapa hipotesis. Hipotesis dibagi menjadi dua :
1. Ho ( null ) : menggambarkan bahwa tidak ada keywords, hipotesis tidak ada
2. Ha ( alternative ) : menggambarkan bahwa ada perbedaan dan ada hipotesis
Keywords : perbedaan, pengaruh, hubungan
Uji hubungan
Variabel x : bebas => secara tidak langsung adalah “penyebabâ€
Y => tergantung => secara tidak langsung adalah akibat
Locus control internal : cara individu melihat dirinya sendiri
Locus control eksternal : cara individu melihat dari luar dirinya Read the rest of this entry »
Mungkin yang anda maksud ini :
statistika psikologi
statistik psikologi
contoh populasi dan sampel statistika
contoh sampel statistika
Cara menghitung korelasi person
statisik psikologi
apa pengertian statistik dan sample
psikologi statistik
statiska psikologi
statistik inferensial random dan non random
Rumus T-tes
rumus statistik non parametric
rumus sample populasi
statistik contoh populasi dan sampel
rumus korelasi person
perbedaan statistik deskriptif dan statistik inferensial
contoh hipotesis statistik
contoh makalah stratifikasi
contoh sampling statistik dan non statistik
contoh sempel statistik
contoh-contoh data populasi dan sampel
hipotesis deskriptif statistik psikologi
hipotesis statistika
pengertian statistik parametric
statistika untuk psikologi .Saya pernah bertanya iseng di kelas Statistik,”Anava itu singkatan Analisis Varians berarti yang dianalisis kanvarians nya. Tapi kok digunakan untuk menguji beda mean?” Pertanyaan itu jadi kuis dengan hadiah coklat. Sayang sekali coklatnya tidak jadi dibagi karena nggak ada yang jawab.
Parametrik : untuk banyak subjek
Non parametric : untuk sedikit subjek
Statistik sebagai alat untuk menghitung, menganalisis data, mengubah data.
Beberapa teori tentang kuantitas subjek
Batas banyak dan sedikit adalah 12 orang
Batas banyak sedikit adalah 30 orang ( umum )
Batasnya 100 orang
Parametrik
Kurva normal, banyak dan sedikit jumlah sama.
Non parametric
Kurva tidak normal, tergantung kuantitas subjek
Populasi dan sample
Populasi : kumpulan subjek dalam 1 tempat ( bagian keseluruhan )
Sample : bagian dari populasi syarat -> populasi harus homogeny
Konsep sample dan populasi
Homogen : sample diambil sebagian kecil
Heterogen : sample tidak dapat diambil
S. Deskriptif : Statistik yang mengambil dari populasi
S. inferensial : dengan menghitung sample yang mewaikili populasi ( kesimpulan pada popuilasi )
Data
1. Ordinal
2. Nominal
3. Rasio
4. Interval
Data sederhana : diskip dan kontinyu
Diskrip : data dengan 2 pilihan / pasti , tidak bias dipecah pecah
Continue : data yang menggunakan penyerdehanaan ( contoh : umur, BB , dll )
Contoh : 1. Jumlaah IQ 110 /120/100 deskrip, 2. Jenis iq superior average continue
Teknik sampling
Teknik mengambil sample
Pendekatan random
Semua subjek punya peluang / hak yang sama jika memakai pendekatan ini harus memiliki kerangka subjek
Stratifikasi : bertingkat, sebagai cara untuk melihat suatu subjek tersebut homogen atau tidak
Proporsional : mengambil subjek dari segala stratifikasi , namun secara proporsional
Quota : mengambil berapa pun jumlah sample tanpa memperdulikan populasi, jumlah yang bias diterima dengan angka
Area : suatu tempat yang memiliki situasi berbeda
Cluster : penunjukan populasi yang relative kecil dan ada kesamaan
Pendekatan Non random
Semua subjek punya peluang yang tidak sama
Purposive : teknik yang memiliki tujuan dan spesifik
Insidental : tidak berpatokan pada apapun ( asal asalan )
Paling utama memakaii pendekatan random, kalau tidak nilai kesimpulan akan lebih rendah
Statistik inferensial :
Mengapa hipotesis. Hipotesis dibagi menjadi dua :
1. Ho ( null ) : menggambarkan bahwa tidak ada keywords, hipotesis tidak ada
2. Ha ( alternative ) : menggambarkan bahwa ada perbedaan dan ada hipotesis
Keywords : perbedaan, pengaruh, hubungan
Uji hubungan
Variabel x : bebas => secara tidak langsung adalah “penyebabâ€
Y => tergantung => secara tidak langsung adalah akibat
Locus control internal : cara individu melihat dirinya sendiri
Locus control eksternal : cara individu melihat dari luar dirinya Read the rest of this entry »
Mungkin yang anda maksud ini :
statistika psikologi
statistik psikologi
contoh populasi dan sampel statistika
contoh sampel statistika
Cara menghitung korelasi person
statisik psikologi
apa pengertian statistik dan sample
psikologi statistik
statiska psikologi
statistik inferensial random dan non random
Rumus T-tes
rumus statistik non parametric
rumus sample populasi
statistik contoh populasi dan sampel
rumus korelasi person
perbedaan statistik deskriptif dan statistik inferensial
contoh hipotesis statistik
contoh makalah stratifikasi
contoh sampling statistik dan non statistik
contoh sempel statistik
contoh-contoh data populasi dan sampel
hipotesis deskriptif statistik psikologi
hipotesis statistika
pengertian statistik parametric
statistika untuk psikologi .Saya pernah bertanya iseng di kelas Statistik,”Anava itu singkatan Analisis Varians berarti yang dianalisis kanvarians nya. Tapi kok digunakan untuk menguji beda mean?” Pertanyaan itu jadi kuis dengan hadiah coklat. Sayang sekali coklatnya tidak jadi dibagi karena nggak ada yang jawab.
Menjawab pertanyaan ini sebenarnya sama saja
dengan menjelaskan apa itu Analisis Varians. Dan semua berawal dari Varians itu sendiri, lebih
tepatnya Varians dari Variabel Dependen.
Pada
Awalnya: Variasi Variabel Dependen
Penelitian biasanya melibatkan satu atau lebih
variabel. Variabel didefinisikan sebagai atribut yang dapat bervariasi. Namanya
juga Vary-able, dapat
bervariasi. Misalnya tinggi badan, ada yang tinggi ada yang pendek. Tinggi badan
adalah variabel karena ia bervariasi. Variasi di sini dapat berarti variasi
antara orang satu dengan yang lain, bisa juga antara orang yang sama dalam
waktu yang berbeda. Variasi juga bisa terjadi antara kelompok satu dengan yang
lain.
Nah mengapa variasi ini bisa terjadi? Mengapa
tinggi badan orang-orang bisa bervariasi? Orang yang sama pada waktu yang
berbeda juga memiliki variasi tinggi badan. Ketika kita masih usia 5 tahun,
mungkin tinggi badan kita nggak lebih dari 1 meter. Sekarang kita mungkin punya
tinggi badan yang lebih dari 1,5 meter.
Beberapa pertanyaan mengenai variasi ini
menjadi pertanyaan yang cukup penting untuk dijelaskan sehingga menjadi kajian
ilmu tertentu. Misalnya mengapa prestasi siswa bisa bervariasi? Adakah
suatu penjelasan mengenai
variasi ini? Kemudian psikologi pendidikan atau ilmu kependidikan berusaha
mencari penjelasan mengenai variasi prestasi ini.
Kemudian misalnya, ada yang mengajukan teori
bahwa prestasi siswa itu bervariasi karena jam belajar yang bervariasi. Siswa
dengan jam belajar yang banyak biasanya prestasinya baik juga. Atau dengan kata
lain orang ini menyatakan bahwa variasi
prestasi itu mengikuti variasi jam belajar, bahkan jika ia cukup berani
akan mengatakan variasi prestasi itu
diakibatkan variasi jam belajar. Sementara yang lain berkata variasi
prestasi itu mengikuti variasi model pembelajarannya. Dalam kelompok yang
mengikuti model pembelajaran A, prestasi siswanya cenderung lebih tinggi daripada kelompok yang mengikuti model
B. Orang yang lain lagi akan berkata variasi prestasi akan mengikuti variasi
dari variabel lain lagi.
Jika digambarkan maka paragraf di atas akan
tampak seperti ini:
Gambar
1.
Dalam gambar ini, tiap lingkaran mewakili
variasi tiap variabel. Perpotongan antara dua lingkaran (yang berwarna-warni)
merupakan variasi dari satu variabel yang mengikuti variabel lain. Perpotongan
antara dua lingkaran ada yang besar dan kecil. Ini menggambarkan juga bahwa
variasi prestasi siswa yang mengikuti variasi variabel ada yang besar dan
kecil.
Selain perpotongan antara dua lingkaran, ada
juga perpotongan tiga lingkaran (lihat bagian berwarna merah). Bagian ini
merupakan perpotongan antara variasi prestasi siswa, jam belajar dan model
pembelajaran. Apa maksudnya. Ini berarti ada sebagian variasi prestasi siswa
yang mengikuti interaksi variabel
model pembelajaran dan jam belajar. Untuk sementara diingat dulu saja ya. Saya
akan jelaskan panjang lebar nanti ketika kita membahas desain faktorial.
Nah bagian dari variasi prestasi siswa yang
tidak diwarnai merupakan variasi prestasi siswa yang tidak dapat dijelaskan
oleh ketiga variabel. Bisa jadi variasi ini bisa dijelaskan variabel lain yang
belum disebutkan, atau (beberapa ahli percaya) merupakan efek dari error yang
bersifat random, tak ada variabel yang mampu menjelaskannya.
Lalu?
Jika variasi prestasi siswa yang mengikuti
variasi variabel lain itu besar,
bisa dibilang variabel ini cukup berperan dalam menjelaskan variasi prestasi siswa, dalam gambar misalnya
variasi model pembelajaran. Jadi jika ada dua orang siswa yang berbeda
prestasinya, kita bisa bilang bahwa mereka berdua memiliki kemungkinan besar
mengikuti model pembelajaran yang berbeda. Anggaplah jika model A lebih baik,
maka kemungkinan besar siswa yang memiliki prestasi lebih baik berasal dari kelompok
yang mengikuti model A.
Nah jika kita memiliki cara untuk memilah
variasi-variasi itu dari data kita, kita akan dapat menentukan mana variabel
yang penting untuk menjelaskan variasi prestasi siswa. Hmmm… lalu gimana cara?
Varians
sebagai ukuran Variasi
Sebelum melangkah lebih jauh… sepertinya
memang kita tidak bisa melangkah lebih jauh sebelum membahas tema
ini.Pertanyaan yang muncul berikutnya, gimana kita bisa tahu besarnya variasi
kelompok? Apakah kita lihat satu-satu data kita? (saya bisa mendengar nada
cemas nih). Nggak lah. Ada kok ukuran untuk menggambarkan variasi ini
: Varians (sayang nggak
ada musiknya, ini bisa diiringi musik misterius nih).
Sepertinya pernah denger atau baca? Iya di
posting-posting terdahulu saya cukup banyak bicara ini. Karena kita akan banyak
bicara analisis varians, maka varians ini yang akan jadi tema sentral.
“Maaf, Kang, Varians teh apa ya?” (Ini yang
nanya dari jawa barat, blog ini dibaca sampe medan lo. Terima kasih
untuk Pak Azuar di medan)
Varians itu sebenarnya rata-rata dari kuadrat
jarak skor subjek dari mean kelompoknya. Agak susah bayanginnya ya? Bayangkan
kita main lempar ladam (sepatu kuda). Peraturannya kita melempar ladam ini ke
sebuah tonggak kayu yang jaraknya 5 meter dari tempat kita berdiri. Nah setelah
semua peserta melempar, kita ukur jarak tiap ladam dari
tonggak. Ada yang dekat, ada yang jauh seperti dalam gambar berikut.
Gambar
2.
Hasil pengukuran jarak tiap ladam dari tonggak
ini kemudian dikuadratkan lalu dijumlahkan. Setelah itu kita membaginya dengan
banyaknya ladam yang dilempar. Hasil baginya berupa rata-rata kuadrat dari
jarak ladam dengan tonggaknya. Kalau dirumuskan bisa seperti ini:
Nah analogi ini kita terapkan pada varians
menjadi:
Bagaimana menghitung jarak skor individu dari
mean? Skor individu pada satu variabel akan digambarkan dalam satu garis lurus.
Gambar
3.
Jika begini keadaannya, bagaimana mengukur
jarak skor individu dari mean? Aha! Kita tinggal mengurangi jarak skor individu
dari nol dengan jarak mean dari nol. Jadi seperti ini:
Nah mari kita
terapkan pada rumus tadi, sehingga menjadi begini:
Aaah sepertinya
sering melihat rumus seperti ini di buku statistik bukan? Jika nanti bertemu
dengan rumus ini lagi atau kata Varians, bayangkan gambar ladam tadi. Varians adalah rata-rata dari kuadrat jarak
skor individu dari mean kelompoknya.
“Wah sorry, man. Tapi why, man ? (baca: kenapa
harus dikuadratkan?)” (yang nanya anak gaul)
Gini coy…ups ketularan gaul. Kalo kita menghitung
jarak skor dari mean kelompoknya, maka akan ada yang bernilai positif ada yang
bernilai negatif. Nah kalo kita jumlahkan begitu saja, hasil penjumlahannya
akan sama dengan nol. Jadi kesannya janggal, semua titik itu punya jarak dari
meannya tapi kok jumlahnya nol? Kalo jaraknya nol harusnya kan jarak
semua titik itu dari mean ya nol, atau tidak berjarak (tumpuk undhung). Tentu
saja ini terjadi karena ada nilai positif dan negatif. Ada titik yang
skornya berada di sebelah kiri ada yang di sebelah kanan dari mean. Untuk
mengatasi ini ada dua cara, yaitu menghilangkan semua tanda dengan membuat
nilainya absolut, atau dengan mengkuadratkannya.
Dengan beberapa alasan (untuk saat ini percaya
dulu sama saya ya. Saya akan bahas mengenai alasan ini suatu hari nanti), para
ahli memilih menggunakan cara mengkuadratkannya.
“Tapi Lo bakalan dapet ukuran dalam unit
kuadrat, dong” (wah orang jakarte yang nanya).
Iye …duh ketularan lagi. Iya, varians memang
ukuran variasi skor subjek dalam unit kuadrat. Jika kita menginginkan ukuran
variasi skor subjek dalam unit satuan, kita tinggal menghitung akar dari
variansnya. Nah ukuran ini yang kemudian disebut sebagai standard deviasi.
(Saya bisa mendengar suara O panjang sekali). Begini rumusnya
Varians
dalam Sampel
Yang saya sajikan di atas adalah menghitung
varians dari populasi. Bagaimana jika kita ingin menghitung varians dari
sampel. Apakah sama saja? Pada dasarnya sama. Hanya saja begini, jika varians
yang kita hitung di sampel ingin dijadikan estimasi varians populasi, kita
perlu sedikit mengubah rumusnya.
Masih ingat mengenai derajat kebebasan? Saya
membahas hal ini dalam posting mengenai t-test. Tiap kali kita mengestimasi
satu parameter, kita akan kehilangan satu derajat kebebasan. Di sini karena
kita mengestimasi varians populasi dari varians sampel, kita kehilangan satu
derajat kebebasan. Oleh karena itu sekarang kita tidak membagi jumlah kuadrat
jarak skor dari mean dengan N tetapi dengan n-1. Rumusnya menjadi begini:
Nah varians yang dirumuskan seperti ini yang merupakan
ukuran dari variasi skor subjek dalam suatu sampel tertentu.Standard
deviasinya? Hmm tinggal mencari akar kuadratnya saja tentunya.
Mempartisi
Varians dan Jumlah Kuadrat
Waduh apa pula ini? Seperti mempartisi
harddisk saja?
Ya, yang bisa dipartisi ternyata nggak cuma
harddisk aja. Mempartisi varians sebenarnya memiliki arti yang sama dengan
berusaha menemukan besarnya perpotongan dua lingkaran dalam gambar 1. Kita
berusaha memilah berapa besar variasi dari variabel dependen yang mengikuti
variasi variabel lain. Misalnya berapa besar variasi variabel prestasi siswa
yang mengikuti variasi model pembelajaran.
“Kepriben carane?”(yang nanya orang tegal).
Baiklah, sebelum membahas caranya, kita
perkenalkan dulu satu ukuran variasi yang lain, yaitu Jumlah Kuadrat (Sum of Square), lengkapnya Jumlah dari
Deviasi Kuadrat (Sum of Squared Deviation).
Sebenarnya kita sudah bertemu dengan tamu kita ini, hanya saja tersembunyi
dalam rumus Varians. Seperti namanya Jumlah dari Kuadrat Deviasi… Yak! Benar
sekali! Jumlah Kuadrat ini adalah numerator (pembilang) dari rumus varians:
Nah melalui JK (atau SS) inilah kita akan mempartisi variasi dari variabel dependen.
Mengapa? (ini yang nanya saya sendiri). Karena SS memiliki sifat aditif yang
tidak dimiliki oleh varians. Maksudnya dapat dijumlahkan dan dapat dikurangi
satu sama lain di antara bagian-bagiannya. Jelasnya begini, kita lihat gambar
berikut:
Gambar
2.
Lingkaran Variasi Model Pembelajaran digambar
dengan garis putus-putus karena tidak menjadi fokus perhatian saat ini. Kita
akan banyak memperhatikan Lingkaran Variasi Prestasi Siswa.
Keseluruhan lingkaran Variasi Prestasi Siswa
ini merupakan variasi dari semua siswa yang diukur prestasinya, sering juga
disebut sebagai Variasi Total. Jika kita menghitung JK-nya maka kita akan
mendapatkan JK total (sounds familiar?).
Nah keseluruhan variasi ini dipartisi dalam bagian yang mengikuti variasi
variabel model pembelajaran (bagian berwarna biru) diberi lambang A, dan bagian
yang tidak mengikuti variasi variabel model pembelajaran (yang tidak berwarna)
diberi lambang e. Sehingga keseluruhan variasi prestasi siswa merupakan
penjumlahan dari A dan e, dapat dirumuskan sebagai berikut:
Lalu bagaimana rumus tiap JK ini?
Rumusnya persis seperti yang telah saya
berikan tapi diaplikasikan dalam situasi yang berbeda.
Jumlah
Kuadrat Total
Nah namanya saja jumlah kuadrat total, berarti
ini menggambarkan keseluruhan variasi sampel dalam penelitian tanpa
memperhatikan asal sampel (dari model pembelajaran A atau B). Oleh karena itu
kita perlu terlebih dulu mencari mean yang mencakup semua subjek disebut juga
Grand Mean (GM). Kita tinggal menjumlahkan semua skor semua subjek dan membaginya
dengan banyaknya subjek.
Jangan terbebani dengan rumus ya. Ini
sebenarnya rumus mencari mean biasa, hanya saja diberlakukan pada seluruh
subjek penelitian tanpa melihat kelompoknya.
Kemudian kita menerapkan rumus JK secara umum
untuk mencari Jumlah Kuadrat Total:
Beberapa buku memberikan rumusan yang
berbeda-beda untuk Jumlah Kuadrat Total ini. Salah satunya antara lain:
Keduanya akan memberikan hasil yang persis
sama, karena rumus kedua merupakan penyederhanaan rumus pertama.
Baiklah sebagai ilustrasi saya sajikan contoh
saja ya:
Tabel 1
Berapa JK Total dari data ini?
Jadi JK Total dari data di atas adalah 46.4.
Cobalah kamu cari dengan menggunakan rumus kedua, lalu bandingkan apakah
hasilnya sama.
Jumlah
Kuadrat dari Bagian Variasi Variabel Dependen yang Mengikuti Variabel
Independen.
Wah namanya panjan banget ya. Kita akan
menggunakan nama lainnya saja agar lebih ringkas yaitu JK Antar Kelompok.
Penjelasan mengenai asal usul nama ini akan diberikan di akhir posting. Jadi
untuk sementara kita ingat dulu saja bahwa JK Antar ini adalah JK dari Bagian
Variasi Variabel Dependen yang Mengikuti Variabel Independen.
Ilustrasi di gambar 1 maupun 2 merupakan salah
satu cara penjelasan mengenai JK Antar ini. Di sini saya akan menyajikan konsep
yang sama dari cara penjelasan yang berbeda. Kita lihat lagi Tabel 1. A1, A2,
A3 merupakan variasi dari variabel independen, misalnya saja proses
pembelajaran. Nah variasi variabel dependen yang mengikuti variasi variabel
independen dapat dilihat dari perbandingan antar kolom A1, A2, A3.
Misalnya kita lihat di kolom A1,skor di dalam kolom ini cenderung kecil
berkisar antara 2 sampai 5. Sementara kolom A2 berisi skor dari 4 hingga 7 dan
kolom A3 berisi skor antara 5 sampai 8. Kita bisa melihat bahwa kolom yang berbeda
memiliki kecenderungan skor variabel dependen yang berbeda. Ini yang dimaksud
dengan variasi variabel dependen yang mengikuti variasi variabel independen.
Secara grafis bisa dilihat dalam gambar 3 berikut:
Gambar
3.
Dalam gambar tersebut, dapat kita lihat
kecenderungan A1 berada di bawah sementara A2 berada di tengah dan A3 berada di
paling atas. Jadi ketika kita melihat kelompok yang berbeda, sebaran skor
variabel dependennya juga berbeda dari sebaran pada kelompok yang lain.
Nah apa yang bisa kita anggap mewakili
kecenderungan tiap kelompok ini? Mean. Ya kita bisa melihat mean untuk mewakili
kecenderungan kelompok. Jadi jika kita ingin melihat variasi dari variabel
dependen yang mengikuti variabel independen, kita akan melihat variasi dari mean kelompok. Dengan
kata lain kita akan mencari JK dari
mean antar kelompok.
Bagaimana caranya?
Kita akan menerapkan rumus JK secara umum yang
diaplikasikan untuk mean kelompok. Kurang lebih begini:
Mean dari mean akan sama dengan Grand Mean
yang kita cari tadi.
Dengan demikian, rumus dari JK mean akan
menjadi seperti ini:
Atau dapat juga diekspresikan dengan:
Kita coba terapkan dulu di contoh kasus kita.
Sebelumnya kita mencoba menghitung mean dari tiap kelompok seperti ini:
Nah ada sedikit masalah dengan JK mean ini,
yaitu kita cenderung untuk memperoleh JK Mean yang kecil. Ini diakibatkan kita
menghitung variasi ini berdasarkan mean dari skor subjek. Variasi dari mean
skor subjek tentunya akan lebih kecil daripada variasi skor subjek. Untuk
mengatasi hal ini, kita akan mengalikan JK Mean ini dengan banyaknya subjek di
tiap kelompok. Hasil perkalian ini yang kemudian dianggap secara tepat mewakili
variasi variabel dependen yang mengikuti variasi variabel independen.
Saya akan menunjukkan juga alasan lain mengapa
kita perlu mengalikan JK mean ini dengan banyaknya subjek dalam tiap sampel di
posting lain.
Tapi apakah ini sama dengan rumus yang ada di
buku-buku? Saya yakin sama. Kita buktikan ya(jika dirasa terlalu kecil klik
saja pada pembuktian, maka akan muncul image yang lebih besar):
Nah rumus terakhir ini yang sering kita lihat
di buku-buku bukan? Aha! Ternyata tidak serumit yang dibayangkan bukan? Kita tidak
perlu menghafal pembuktian ini tentunya. Pembuktian ini hanya dilakukan untuk
menunjukkan bahwa rumus yang saya tawarkan dan rumus yang di buku sama.
Keuntungan rumus dari buku ini, kita bisa berurusan degan sampel dengan n yang
berbeda, sementara menggunakan rumus yang saya tawarkan memang sederhana tapi
akan kesulitan jika harus berurusan dengan kelompok dengan n yang berbeda.
Pengertian dan Penyusunan Konstruksi Alat Ukur Tes Psikologi
- Artikel ini melatih kita untuk membuat alat ukur psikologi yang memenuhi
persyaratan sebagai alat ukur yang baik dan benar. Melalui artikel ini
diharapkan mampu membuat alat ukur psikologi menggunakan metode dan tahapan
yang benar.
A. Manusia adalah makhluk yang unik
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari manusia beserta perilakunya. Namun ilmu ini juga menemukan bahwa kajian mengenai manusia hanya menemukan fakta bahwa tiap manusia unik dan tidak ada dua individu yang sama walaupun dua individu yang dibandingkan adalah dua manusia kembar identik. Oleh karena itu, salah satu jargon yang terkenal dalam psikologi adalah “individual differences”, yaitu ilmu yang mencoba mempelajari perbedaan antar individu.
Banyak keunikan yang ada dalam tiap individu, namun yang paling mencolok adalah perbedaan fisik.Fakta ini sudah banyak diungkap dalam berbagai kajian dan penelitian hingga digunakan dalam berbagai kehidupan, salah satunya adalah sidik jari. Semirip apapun dua atau lebih individu, ternyata keduanya tidak akan memiliki sidik jari yang sama.
Jika lebih dalam kita gali tentang manusia, maka kita juga akan temukan bahwa tiap manusia memiliki DNA yang berbeda. Selain DNA dan sidik jari, perbedaan kondisi fisik ini tentunya berdampak pada perbedaan perilaku, sikap, dan kondisi psikologis.Pada dasarnya, fakta awal mengenai keunikan individu dapat kita lihat dari adanya keunikan dalam fisiknya baik yang bersifat kasat mata atau yang membutuhkan teknologi khusus untuk membedakannya.
Keunikan fisik manusia tentunya akan berpengaruh pada keunikan psikisnya. Individu yang terlahir dengan badan besar dan tinggi akan mendorong lahirnya karakter tertentu yang berbeda dengan individu yang terlahir dengan badan kecil dan rendah. Sebesar apapun upaya lingkungan untuk memperlakukan dua orang yang berbeda secara sama, respon dari dua individu yang berbeda terhadap perlakuan yang sama sudah pasti juga berbeda.
Terlebih jika kita melihat bahwa setiap budaya memiliki cara tertentu dalam memperlakukan individu yang disesuaikan dengan karakteristik fisiknya maka sudah tentu respon psikis tiap individu akan berbeda. Pada kembar identik, misalnya, dalam budaya tertentu anak yang lahir terlebih dahulu disebut adik sedangkan pada budaya lain anak yang terlahir lebih dahulu disebut kakak walaupun keduanya hanya selisih beberapa menit bahkan detik pada saat kelahirannya. Sehingga menjadi suatu keniscayaan bahwa tiap individu memiliki karakter psikis yang unik selain juga karakter fisiologis.
Salah satu dampak dari keunikan individu tersebut adalah munculnya upaya penilaian individu oleh individu lainnya. Dalam sebuah masyarakat sosial, individu perlu melakukan penyesuaian perilaku sehingga dibutuhkan upaya penilaian agar penyesuaian yang dilakukannya tepat dan dapat diterima oleh orang lain. Namun dalam kompleksitas masyarakat modern, penilaian ini menjadi semakin penting terkait dengan tujuan-tujuan tertentu yang menjadi kebutuhan dari masyarakat modern tersebut.
A. Manusia adalah makhluk yang unik
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari manusia beserta perilakunya. Namun ilmu ini juga menemukan bahwa kajian mengenai manusia hanya menemukan fakta bahwa tiap manusia unik dan tidak ada dua individu yang sama walaupun dua individu yang dibandingkan adalah dua manusia kembar identik. Oleh karena itu, salah satu jargon yang terkenal dalam psikologi adalah “individual differences”, yaitu ilmu yang mencoba mempelajari perbedaan antar individu.
Banyak keunikan yang ada dalam tiap individu, namun yang paling mencolok adalah perbedaan fisik.Fakta ini sudah banyak diungkap dalam berbagai kajian dan penelitian hingga digunakan dalam berbagai kehidupan, salah satunya adalah sidik jari. Semirip apapun dua atau lebih individu, ternyata keduanya tidak akan memiliki sidik jari yang sama.
Jika lebih dalam kita gali tentang manusia, maka kita juga akan temukan bahwa tiap manusia memiliki DNA yang berbeda. Selain DNA dan sidik jari, perbedaan kondisi fisik ini tentunya berdampak pada perbedaan perilaku, sikap, dan kondisi psikologis.Pada dasarnya, fakta awal mengenai keunikan individu dapat kita lihat dari adanya keunikan dalam fisiknya baik yang bersifat kasat mata atau yang membutuhkan teknologi khusus untuk membedakannya.
Keunikan fisik manusia tentunya akan berpengaruh pada keunikan psikisnya. Individu yang terlahir dengan badan besar dan tinggi akan mendorong lahirnya karakter tertentu yang berbeda dengan individu yang terlahir dengan badan kecil dan rendah. Sebesar apapun upaya lingkungan untuk memperlakukan dua orang yang berbeda secara sama, respon dari dua individu yang berbeda terhadap perlakuan yang sama sudah pasti juga berbeda.
Terlebih jika kita melihat bahwa setiap budaya memiliki cara tertentu dalam memperlakukan individu yang disesuaikan dengan karakteristik fisiknya maka sudah tentu respon psikis tiap individu akan berbeda. Pada kembar identik, misalnya, dalam budaya tertentu anak yang lahir terlebih dahulu disebut adik sedangkan pada budaya lain anak yang terlahir lebih dahulu disebut kakak walaupun keduanya hanya selisih beberapa menit bahkan detik pada saat kelahirannya. Sehingga menjadi suatu keniscayaan bahwa tiap individu memiliki karakter psikis yang unik selain juga karakter fisiologis.
Salah satu dampak dari keunikan individu tersebut adalah munculnya upaya penilaian individu oleh individu lainnya. Dalam sebuah masyarakat sosial, individu perlu melakukan penyesuaian perilaku sehingga dibutuhkan upaya penilaian agar penyesuaian yang dilakukannya tepat dan dapat diterima oleh orang lain. Namun dalam kompleksitas masyarakat modern, penilaian ini menjadi semakin penting terkait dengan tujuan-tujuan tertentu yang menjadi kebutuhan dari masyarakat modern tersebut.




















Tidak ada komentar:
Posting Komentar