Rabu, 29 Juni 2016

DEFINISI, TUJUAN DAN KARAKTERISTIK KONSTRUKSI TES PSIKOLIGI

DEFINISI, TUJUAN DAN KARAKTERISTIK KONSTRUKSI TES PSIKOLIGI


·         Tes performansi maksimum : performansi kinerja terbaik oleh individu
·         Tes performansi tipikal : mengungkapkan sifat-sifat kepribadian, sehingga tersamar dan terstruktur.

Hal inilah yang diukur dengan psikologi. Pengukuran sendiri adalah proses kuantifikasi atribut dan dapat menghasilkan data yang valid dan dilakukan secara sistematik.

·         Selanjutnya, dalam pembuatan alat ukur beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :
                       v  Indikator – indicator perilaku
                       v  Perilaku yang tampak
Jangan sesekali membuat pernyataan dalam pengukuran “ factor-faktor yang mempengaruhi” kata Bu Lola. Ketika sedang membahas skala yang digunakan untuk pengukuran bu Lola memberikan perbedaan bentuk skala Likert : (SS) Sangat Setuju  (S) Setuju  (N)  Netral (TS) Tidak Setuju (STS) Sangat Tidak Setuju dan skala Thurstone : 1 2 3 4 5 sd 10 (untuk pernyataan sangat setuju sd sangat tidak setuju).








Kemudian Bu Lola juga menjelaskan mengenai kelemahan dari skala Psikologi, yaitu :

Atribut psikologi bersifat latent dan tidak mempunyai eksistensi riil
Atribut – atribut skala psikologi ditulis berdasarkan indicator perilaku yang jumlahnya terbatas
Respon yang diberikan subjek terhadap stimulus skala psikologi dipengaruhi oleh variable yang tidak relevan seperti mood atau suasana yang tidak kondusif dalam pengisian questioner atau angket.

 Atribut psikologi yang terdapat dalam diri manusia stabilitasnya tidak tinggi.
Intepretasi terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara normative

Objek pengukuran dapat berupa atribut fisik atau psikologi. Karakteristik skala sebagai alat ukur dijelasan oleh Bu Lola adalah sbb :
Stimulus berupa pernyataan yang tidak langsung mengungkapkan indicator perilaku yang hendak diukur
Skala psikologi selalu terdiri dari 2 item  Respon subjek diklasifikasikan sebagai jawaban ‘benar’ atau ‘salah’.









No
Angket
Skala
1
Data yang diungkapkan berupa fakta
Data yang diungkapkan berupa konstruk atau konsep psikologis
2
Pertanyaan dalam angket bersifat langsung mengarah kepada informasi mengenai data yang hendak diungkap. Data tersebut berupa opini atau fakta yang menyangkut diri responden
Pertanyaan dalam skala  bersifat tidak langsung dan untuk memancing jawaban yang  merupakan proyeksi dari keadaan diri subjek yang biasanya tidak disadari
  3

Responden tahu persis apa yang ditanyakan dalam angket dan informasi apa yang dikehendaki oleh pertanyaan tersebut
Sekalipun responden memahami isi pertanyaan dalam skala, namun responden tidak mengetahui arah jawaban yang dikehendaki dan kesimpulan apa yang sesungguhnua diungkap oleh pertanyaan tersebut.
4
Jawaban terhadap angket tak daoat diberi skor (dalam arti kualitas/kuantitas) melainkan diberi angka coding atau klasifikasi jawaban
Jawaban terhadap item diberi skor melalui proses penskalaan
5
Satu angket dapat mengungkapkan informasi mengenai banyak hal (banyak variable)
Satu skala hanya mengungkapkan atribut tunggal (satu variable / undimensional)
6
Data yang diperolah dengan angket tidak perlu diuji validitas dan reliabilitasnya secara psikometris
Data yang diperoleh dengan skala perlu divalidasi secara psikometris. Karena isi dan konteks kalimat yang digunakan sebagai stimulus pada skala lebih terbuka terhadap error
7
Validitas dan reliabilitas angket tergantung pada kejujuran responden dalam menjawab pertanyaan
Validitas dan reliabilitas skala tergantung pada kejelasan konsep atribut yang hendak diukur dan operasionalisasinya.





Pernyataan diatas merupakan ciri pengukuran terhadap performasi tipikal

Ditengah pembahasan bu Lola juga mengingatkan kembali pada mahasiswa untuk tugas pembuatan alat ukur yang diberikan oleh Pak Seta. Tugas tersebut dikumpulkan berupa proposal pada UTS dan berupa laporan hasil pada saat UAS. Pada tugas pembuatan alat ukur tersebut bu Lola memberikan masukan pada saat angket yang dibuat perlu di uji coba kevaliditasannya. Salah satu uji coba tersebut adalah dengan proses Elisitasi yakni proses wawancara yang dilakukan sebelum penyebaran angket. Proses ini diperlukan untuk mengetahui apakah fenomena yang akan diukur benar-benar merupakan fenomena yang terjadi pada suatu populasi tertentu. Maka dari itu diperlukan proses tersebut agar teruji kevaliditasannya.

Back to the topic, berkutnya bu Lola memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara angket dengan skala dalam pengukuran. Perbedaan tersebut adalah sbb :







Setelah bu Lola Kasih penjelasan dari slidenya, sekarang giliran mahasiswa diskusi sesuai dengan kelompoknya untuk menindaklanjuti tugas kelompok dari Pak Seta yang sebentar lagi akan dikumpulkan. Formasi seketika berubah dan diskusi dimulai. Nah…..diskusi ini berlangsung sampai dengan perkuliahan selesai. Sembari berdiskusi bu Lola beri kesempatan untuk masing-masing kelompok untuk bertanya mengenai perkembangan tugas membuat alat ukur dan Bu Lola juga kasih beberapa masukan untuk pedoman mahasiswa membuat alat ukur psikologi.

 

PERTEMUAN V SKALA PSIKOLOGI

Pengukuran merupakan proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Berbagai alat ukur telah berhasil diciptakan untuk melakukan pengukuran atribut dalam bidang fisik seperti berat badan, luas bidang datar, dsb. Namun, pengukuran dalam bidang non-fisik, khusunya dalam bidang psikologi, masih dalam perkembangan mungin belum pernah mencapai kesempurnaannya. Beberapa tes dan skala psikologis standar dan yang telah terstandarkan kualitasnya belum dapat dikatakan optimal.
Terus berkembang pesatnya teori pengukuran pun memungkinkan kita untuk meningkatkan usaha guna mencapai keberhasilan dalam penyusunan dan pengembangan alat-alat ukur psikologi yang lebih berkualitas.

Ada beberapa alasan  pengukuran psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas dan objektivitas yang tinggi, antara lain :



a.       Atribut psikologi bersifat latent atau tidak tampak, oleh sebab itu, apa yang kita miliki bersifat konstrak yang tidak akan dapat diukur secara langsung. Dan batasan konstrak psikologis tidak dapat dibuat dengan akuransi yang tinggi serta tidak menutup kemungkinan terjadinya tumpang tindih (overlapping) dengan konsep atribut lain. Di samping itu, konstrak psikologis tidak mudah pula untuk dioperasionalkan.
b.      Aitem-aitem dalam skala psikologis didasari oleh indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas.
c.       Respon yang diberikan oleh subjek sedikit-banyak dipengaruhi oleh variabel-variabel tidak relevan seperti suasana hati subjek, kondisi dan situasi di sekitar, kesalahan prosedur administrasi, dsb.
d.      Atribut psikologis yang terdapat dalam diri manusia stabilitasnya tidak tinggi. Banyak yang gampang berubah sejalan dengan waktu dan situasi.
e.       Interpretasi terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara normatif. Dalam istilah pengukuran, bahwa dalam pengukuran psikologi lebih banyak sumber error.
Keterbatasan-keterbatasan pengukuran dalam bidang psikologi inilah yang menjadikan prosedur konstruksi skala-skala psikologi lebih rumit.
Menurut Syaifuddin Azwar (2005:3-4), skala psikologi sebagai alat ukur yang memiliki karakteristik khusus
a.       cenderung digunakan untuk mengatur aspek bukan kognitif melainkan aspek afektif,
b.      stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan,
c.       jawabannya lebih bersifat proyektif,
d.      selalu berisi banyak item berkenaan dengan atribut yang diukur,

e.       respon subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”, semua jawaban dianggap benar sepanjang sesuai keadaan yang sebenarnya, jawaban yang berbeda diinterpretasikan berbeda pula.
Menurut Cronbach (1970) karakteristik skala psikologis di atas tersebut sebagai ciri pengukuran terhadap performansi tipikal (typical performance), yaitu performansi yang menjadi karakter tipikal seseorang dan cenderung di munculkan secara sadar atau tidak sadar dalam bentuk respon terhadap situasi-situasi tertentu yang sedang dihadapi. Dalam penerapan psikodiagnostika, skala-skala performansi tipikal digunakan untuk mengungkapkan aspek-aspek afektif seperti minat, sikap, dan berbagai variable kepribadian lain, semisal agresivitas, self-esteem, locus of control, motivasi belajar, kepemimpinan, dsb.

Skala psikologi biasanya digunakan untuk mengungkapkan konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan  aspek kepribadian individu seperti : tendensi agresifitas, sikap terhadap sesuatu, self esteem, kecemasan, persepsi, dan motivasi.

Faktor-faktor yang dapat melemahkan validitas

Validitas adalah karakteristik utama yang harus dimiliki oleh setiap skala. Sehingga suatu skala berguna atau tidak ditentukan oleh tinggkat validitasnya. Dalam rangka itu perancang skala harus mengetahui beberapa faktot yang dapat mengancam validitas skala psikologi, antara lain :




a.       Identifikasi kawasan ukur yang tidak cukup jelas
Untuk mengukur “sesuatu” maka sesuatu itu harus dikenali terlebih dahulu dengan baik. Apabila atribut psikologi sebagai tujuan ukur tidak diidentifikasi  dengan benar maka akan terjadi kekaburan. Kekaburan ini disebabkan perancang skala tidak mengenali dengan baik batas-batas atau definisi yang tepat mengenai kawasan (domain) atribut yang hendak diukur.
Ketidaktepatan identifikasi kawasan ukur dapat pula menyebabkan skala menjadi tidak cukup komprehensif daalam mengungkapkan atribut yang dikehendaki.

b.      Operasionalisasi konsep yang tidak tepat
Kejelasan konsep mengenai atribut yang hendak diukur memungkinkan perumusan indikator-indikator perilaku yang menunjukkan ada tidaknya atribut yang bersangkutan. Rumusan indikator perilaku berangkat dari operasionalisasi konsep teoritik mengenai komponen-komponen atau dimensi-dimensi atribut yang bersangkutan menjadi rumusan yang terukur (measurable). Namun, jika rumusan tersebut tidak operasional atau pun masih mempunyai penafsiran ganda akan menimbulkan aitem-aitem yang tidak valid, sehingga menghasilkan skala yang tidak valid pula.

c.       Penulisan aitem yang tidak mengikuti kaidah
Aitem-aitem yang maksudnya sukar dimengerti oleh responden karena terlalu panjang ataupun susunan tata bahasnya yang kurang tepat sehingga mendorong responden memilih jawaban tertentu saja, yang memancing reaksi negatif dari responden, yang mengandung muatan social desirability tinggi, dan yang memiliki cacat semacamnya dihasilkan dari proses penulisan aitem yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah standar. Aitem seperti itu tidak akan berfungsi sebagaimana yang diharapkan.

d.      Administrasi skala yang tidak berhati-hati
Skala yang isinya sudah dirancang dengan baik dan aitem yang ditulis sudah sesuai dengan kaidah, namun diadministrasikan pada responden dengan sembarangan tidak akan menghasilkan data yang valid mengenai keadaan responden.
Beberapa kehati-hatian administrasi ini, antara lain :
1)      Kondisi penampilan skala (validitas tampang)
Skala psikologi bukan sekedar kumpulan aitem-aitem yang diberkas menjadi satu. Melainkan dari segi penampilan, skala psikologi harus dikemas dalam bentuk yang berwibawa sehingga mampu menimbulkan respek dan apresiasi dari responden. Sekalipun tetap tampil sederhana, namun skala psikologi perlu dikemas secara indah, diketik dengan pilihan huruf yang tepat, dicetak dengan tata letak yang menarik. Penampilan skala yang anggun akan memotivasi responden untuk memberikan jawaban dengan serius sehingga diharapkan dapat diperoleh data yang valid.
2)      Kondisi subjek
Dalam hal ini, skala psikologi haris disajikan pada subjek yang secara fisik dan psikologis memenuhi syarat. jangan mengharapkan jawaban yang valid, apabila responden harus membaca dan menjawab skala dalam keadaan sakit, lelah, tergesa-gesa, tidak berminat, merasa terpaksa, dsb.
3)      Kondisi testing
Situasi juga sangat mempengaruhi hasil skala, misalnya ruangan yang terlalu panas dan sempit, suasana di sekitar yang bising, tempat duduk yang tidak nyaman, penerangan yang kurang, ataupun adanya pihak ketiga di dekat responden akan berpengaruh terhadap perilaku responden.


e.   Pemberian skor yang tidak cermat
Kadang-kadang terjadi kesalahan dari pihak pemberi skor karena penggunaan kunci yang keliru walaupun sudah disediakan “kunci” skoring, ataupun salah dalam penjumlahan skor.

f.       Interpretasi yang keliru
Penafsiran hasil ukur skala merupakan bagian proses diagnosis psikologi yang sangat penting. Sebaik-baiknya fungsi ukur skala apabila diinterpretasikan dengan tidak benar tentu akan sia-sia. Kesimpulan mengenai individu atau kelompok individu akan tidak tepat.

B.     Tahap-tahap penyusunan skala psikologis
Alur kerja dalam penyusunan skala psikologis, sebagai berikut :
Text Box:
a.       Penetapan.tujuan
Pada tahap penepatan tujuan ini  dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang hendak diukur. 

b.      Operasionalisasi konsep
Peneliti melakukan pembatasan pada kawasan (domain) ukur berdasarkan konstrak yang didefinisikan oleh teori yang bersangkutan. Dengan mengenali batasan ukur dan adanya dimensi yang jelas, maka skala akan mengukur secara komprehensif dan relevan, sehingga menunjang validitas isi skala.



Misal, seorang mahasiswa hendak meneliti tentang “konsep diri” siswa, pada tahap ini sebaiknya ia sudah memahami konstrak teori tentang ‘konsep diri” secara benar. Misal : pengertian konsep diri, isi konsep diri, struktur konsep diri, faktor yang mempengaruhi konsep diri, ciri-ciri konsep diri, dan indikator-indikator konsep diri. Mendasarkan konstraknya peneliti mengembangkan item-itemnya.

c.       Pemilihan bentuk stimulan
Sebelum penulisan aitem, penyusunan psikologis perlu menetapkan bentuk atau format stimulus yang hendak digunakan. Bentuk ini berkaitan dengan metode penskalaan. Dalam pemilihan bentuk penskalaan ini lebih tergantung pada kelebihan teoritis dan manfaat praktis format yang bersangkutan.

d. Penulisan aitem/reviu aitem
Sutrisno Hadi menyebutkan beberapa kaidah dalam penulisan aitem, sebagai berikut :
1)   Gunakan kalimat yang sederhana, jelas dan mudah dimengerti oleh responden, serta mengikuti tata tulis dan tata bahasa yang baku.
2)   Hindari penggunaan kata-kata bermakna ganda dan memasukkan kata-kata yang tidak berguna.
3)   Hindari penggunaan kata-kata yang terlalu kuat (sugestif, menggiring) karena akan mendorong responden untuk keluar dari pagar fakta-fakta, serta kata-kata yang terlalu lemah (tidak merangsang) karena tidak dapat memancing respon yang memadai atau adekuat.
4)   Selalu diingat bahwa dalam penulisan aitem hendaknya selalu mengacu pada indikator perilaku, oleh karena itu, jangan jangan menulis aitem yang langsung mengacu pada atribut yang akan diungkap.
5)    Perhatikan indikator perilaku yang hendak diungkap sehingga stimulus dan pilihan jawaban tetap relevan dengan tujuan pengukuran.
6)   Perlu menguji pilihan-pilihan jawaban yang ditulis,adakah perbedaan arti atau makna antara dua pilihan yang berbeda sesuai dengan ciri atribut yang sedang diukur. Apabila tidak ada bedanya maka aitem yang bersangkutan tidak memiliki daya beda (discriminating power).
7)   Isi aitem tidak boleh mengandung keinginan sosial ataupun yang dianggap baik dalam norma sosial, karena aitem yang mengandung norma sosial cenderung akan disetujui dan didukung oleh semua orang bukan karena sesuai dengan perasaan atau keadaan dirinya, namun karena orang berfikir normativ.
8)   Untuk menghindari adanya stereotype jawaban atau memberikan jaawaban pada sisi kanan atau kiri tanpa membaca dan mempertimbangkan dengan diri reaponden, maka sebagian aitem perlu dibuat dalam arah favorabel (positif) dan dalam arah favirabel (negatif) sehingga responden akan membaca lebih teliti dan sungguh-sungguh.

e. Reviu aitem
Reviu pertama dilakukan oleh penulis aitem sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa apakah telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap dan apakah juga tidak keluar dari pedoman penulisan aitem. Setelah itu revieu kedua dilakukan oleh orang lain yang dianggap kompeten untuk mereviu.




Kompeteensi yang diperlukan oleh orang yang diminta untuk mereviu :
1)      Menguasai masalah konstruksi
2)      Menguasai masalh atribut yang diukur
3)      Menguasai bahasa tulis standar
Semua aitem-aitem harus sesuai ketentuan spesifikasi blue-print, jika tidak, aitem tersebut harus ditulis ulang.

f. Uji coba
Tujuan pertama uji coba aitem adalah untuk mengetahui apakah kalimat-kalimat dalam aitem mudah dan dapat dipahami oleh responden. Reaksi-reaksi responden berupa pertanyaan-pertanyaan apakah kalimat yang digunakan dalam aitem merupakan pertanda kurang komunikasinya kalimat yang ditulis dam memerlukan perbaikan. Tujuan kedua, uji coba dijadikan salah satu jawaban praktis untuk memeperoleh data jawaban dari responden yang akan digunakan untuk penskalaan  atau evaluasi kualitas aitem secara statistik.
g. Analisis aitem
Analisis aitem merupakan proses pengujian parameter-parameter aitem guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari skala.
Parameter aitem yang perlu diuji adalah daya beda, daya beda aitem memperlihatkan kemampuan aitem untuk membedakan individu ke dalam berbagai tingkatan kualitatif atribut yang diukur mendasarkan skor kuantitatif. Misalnya, ingin menguji motivasi belajar seseorang, maka aitem tersebut bisa menunjukkan perbedaan individu yng motivasi belajarnya tinggi, sedang dan rendah.
h. Kompilasi I



Berdasarkan dari analisis aitem, maka aitem-aitem yang tidak memenuhi persyratan psikometris harus diperbaiki terlebih dahulu supaya dapat masuk ke dalam skala, begitu pula aitem-aitem yang telah memenuhi persyatan tidak serta merta dapat masuk ke dalam skala, karena proses kompilasi harus mempertimbangkan proporsionalitas skala sebagaimana dideskripsikan oleh blue-printnya. Beberapa yang perlu diperhatikan dalam mengkompilasi aitem-aitem yang sudah memenuhi persyaratan, anatara lain :
1)      Apakah suatu aitem memenuhi persyaratan psikometris atau tidak
2)      Proposionalitas komponen-komponen skala seperti tertera dalam blue-print
i. Kompilasi II
Aitem-aitem yang terpilih yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan oleh blue-print, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas. Jika koefisien reliabilitas kurang memuaskan, maka kembali ke tahap kompilasi dan merakit ulang skala dengan lebih mengutamakan aitem dengan daya deskriminasi tinggi
j. Format akhir
Dalam format akhir skala sebaiknya ditata dalam tampilan yang menarik tetpai tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Menurut Syaifuddin Azwar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1) Perlu dilengkapi dengan pengerjaan dan lebar jawab yang terpisah
2) Ukuran kertas juga disesuaikan dengan panjangnya skala, agar berkas skala tidak nampak terlalu tebal yang menyebabkan responden kehilangan motivasi
3) Ukuran huruf juga perlu mempertimbangkan usia responden.




TES PRESTASI BELAJAR


Tes prestasi belajar adalah salah satu alat ukur hasil belajar yang dapat mencakup semua kawasan tujuan pendidikan, Benyamin S. Bloom (dalam Azwar, 2003) membagi kawasan tujuan pendidikan mejadi tiga bagian, yaitu kawasan kognitif, kawasan afektif, dan kawasan psikomotorik. Sedangkan Robert L. Ebel 1979 (dalam Azwar, 2003) menambahkan bahwa fungsi utama tes prestasi dikelas adalah mengukur prestasi belajar para siswa. Tes prestasi belajar disusun secara terencana untuk mengungkap apa yang oleh Cronbach 1970 (dalam Azwar, 2003) disebut sebagai performansi maksimal subjek (maximum performance).
Banyaknya penggunaan tes prestasi belajar dalam proses pengambilan keputusan dalam dunia pendidikan, selanjutnya menempatkan tes prestasi belajar dalam beberapa fungsi, yaitu fungsi penempatan (placement), fungsiformatif, fungsi diagnostik dan fungsi sumatif.
Fungsi Penempatan
Fungsi penempatan adalah penggunaan hasil tes prestasi belajar untuk klasifikasi individu kedalam bidang atau jurusan.
Fungsi formatif
Fungsi formatif adalah penggunaan tes prestasi belajar guna melihat sejauh mana kemampuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pendidikan.


Fungsi diagnostic
Fungsi diagnostik adalah penggunaan tes prestasi belajar untuk mendiagnosis kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi kelemahan-kelemahan siswa yang dapat diperbaiki segera, dan semacamnya.
Fungsi Sumatif
Fungsi sumatif adalah penggunaan hasil tes prestasi belajar untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dalam suatu program pelajaran. Tes sumatif merupakan pengukuran akhir dalam suatu program dan hasilnya dipakai untuk menentukan apakah siswa dapat dinyatakan lulus dalam program pendidikan tersebut atau apakah siswa dinyatakan dapat melanjutkan ke jenjang program yang lebih tinggi.

1













PERTEMUAN II TES INTELEGENSI




PENGERTIAN TES INTELEGENSI

Menurut DAVID WECHSLER inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Intelegensi didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi. dan WILLIAM STERN, intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya. William Stern berpendapat bahwa intelegensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan, pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang.

Intelegensi merupakan keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Intelegensi tecermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya.



Sedangkan tes intelegensi itu sendiri antara lain;
Suatu pengukuran yang standar dan obyektif terhadap sampel perilaku.
Suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik untuk mengungkap aspek-aspek psikologi tertentu dari individu.
Seperangkat alat ukur yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang pikiran, perasaan, persepsi dan perilaku seseorang guna membuat keputusan penilaian tentang seseorang.
Tes untuk mengukur aspek individu secara psikis (tes dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional) tes dapat diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa.
Suatu teknik atau alat yang digunakan untuk mengungkapkan tarap kemampuan dasar seseorang yaitu kemampuan dalam berpikir, bertindak dan menyesuaikan dirinya secara efektif.
Manfaat Tes intelegensi
Tes intelegensi dapat dipergunakan oleh berbagai pihak di sekolah antara lain;
Sekolah, tes intelegensi dapat digunakan untuk menyaring calon siswa yang akan diterima atau untuk menempatkan siswa pada jurusan tertentu, dan juga mengidentifikasi siswa yang memiliki IQ di atas normal.
Guru, tes intelegensi dapat digunakan untuk mendiagnosa kesukaran pelajaran dan mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan setara.
Konselor, tes intelegensi dapat digunakan untuk membuat diagnosa siswa, untuk memprediksi hasil siswa dimasa yang akan datang, dan juga sebagai media untuk mengawali proses konseling.


Siswa, tes intelegensi dapat digunakan untuk mengenali dan memahami dirinya sendiri dengan lebih baik, dan mengetahui kemampuannya.
Menganalisis berbagai masalah yang dialami murid
Membantu memahami sebab terjadinya masalah
Membantu memahami murid yang mempunyai kemampuan yang tinggi juga yang rendah

Secara umum, tes intelegensi dapat  digunakan sebagai bahan diagnosa. Hasil tes belum tentu perlu disampaikan dalam proses konseling, tetapi konselor maupun konseli memerlukan gambaran yang menyeluruh dari diri seorang konseli. Dengan menggunakan hasil tes intelegensi, konselor dapat melakukan diagnosa terkait perkembangan konseli selama dan setelah proses konseling berlangsung. Selain itu, hasil tes intelegensi dapat digunakan sebagai data penunjang. Jika tes yang digunakan tidak hanya tes atau tes intelegensi, maka hasil tes intelegensi dapat digunakan untuk menunjang data yang telah diperoleh dan diperlukan dalam kegiatan konseling.

JENIS-JENIS.TES.INTELEGENSI
Berdasarkan penataannya ada beberapa jenis tes intelegensi, yaitu;
Tes Intelegensi individual, tes ini hanya dilakukan oleh satu orang saja.secara.khusus..Tes.Intelegensi.individual.diantaranya.:
-
.Stanford.-.Binet.Intelligence.Scale
-.Wechsle.-.Bellevue.Intelligence.Scale.(WBIS)
-.Wechsler.-.Intelligence.Scale.for.Children.(WISC)
-.Wechsler.-.Adult.Intelligence
.Scale.(WAIS)
-.Wechsler.-.Preschool.and.Primary.Scale.of.Intelligence.(WPPSI).
Kelebihan pada tes ini antara lain penguji dapat menilai dengan jelas bagaimana individu yang sedang menjalani tes tersebut. Misalnya mengamati bagaimana individu menyusun laporan, minat dan perhatian individu, kecemasan dalam pengerjaan tugas, serta tingkat toleransi menghadapi rasa frustasi. Kekurangan tes ini adalah kurang begitu nyaman.

Tes Intelegensi kelompok, tes ini dilakukan guna mencari data secara cepat secara serentak. Tes Intelegensi kelompok diantaranya :

Pintner.Cunningham.Primary.Test..-.The.California.Test.of.Mental
Maturity
-.The.Henmon
..-.Nelson.Test.Mental.Ability
-.Otis.
.-.Lennon.Mental.Ability.Test
-.Progressive.Matrices

Kelebihan pada tes ini antara lain rasa nyaman. Tes ini juga memiliki kekurangan antara lain peneliti tidak dapat menyusun laporan individu, tidak dapat menentukan tingkat kecemasan individu, instruksi yang kurang jelas karena ribut atau peserta yang satu diganggu oleh peserta lainnya.
Tes Intelegensi dengan tindakan/perbuatan



PEMAHAMAN MAHASISWA TENTANG KONSTRUKSI  TES

Tujuan  instruksional:
 1. Mahasiswa mampu memahami prinsip umum  penyusunan alat ukur (tes) psikologis.
2.Mahasiswa mengetahui ciri-ciri alat ukur psikologis yang memenuhi syarat 3.Mahasiswa mampu mempraktekkan penyusunan alat ukur psikologis,  khususnya tes prestasi dan tes kemampuan.
*Definisi Konstruksi Tes: adalah studi cara penyusunan alat ukur psikologis (tes) secara ilmiah (sistematis,  obyektif,  standard)
 *Perbandingan: - Psikodiagnostik : manfaat praktis alat tes untuk mendiagnosis masalah-masalah psikologis - Sikometri : teori-teori pengukuran psikologi -   Konstruksi Tes : teknis penyusunan alat tes psikologis
-   Penyusunan skala psikologis : bagian dari kontes khusus untuk data skala Pengertian tes: -Prosedur sistematis untuk mengukur sample perilaku sso (Brown) -Pengukuran obyektif,  standard,  thd sampel perilaku (Anastasi)
-Prosedur sistematis untuk mengamati perilaku seseorang dan digambarkan dalam skala angka atas kategori tertentu.

(cronbach) Kesimpulan :
1.prosedur sistematis : ada aturan tertentu untuk menyusun item administrasi dan skoring yang jelas terperinci dan kondisi testing berlaku sama untuk semua test. 2.Berisi sample perilaku : isi sesuai dengan populasi perilaku yang didefinisikan. Kualitas diri seberapa representatifnya isi.
3.Mengukur perilaku : merespon thd apa yang diketahui oleh testee.
4.Format tes : tergantung maksud dan tujuannya.
5.Materi tes : achievement, minat, intelegensi, kepribadian.
6.Tahu tidaknya yang diukur tentang aspek yang akan diukur.

Pengukuran psikologis: ØAdanya asumsi manusia punya kualitas tertentu yang relative konsisten sepanjang waktu. Kualitas psikologis atau trait / karakter dikonsepkan ke dalam konstruk. Konstruk adalah konsep hipotesis hasil imajinasi ilmuwan. ØKualitas psikologis/atribut merupakan konstruk yang disusun untuk mengorganisasikan pengalaman terhadap perilaku konsisten yang dapat dibandingkan satu dengan orang yang lain. Atribut tidak dapat diukur secara langsung tetapi lewat observable behavior sebagai ludikate yang sah. ØPenyusunan alat ukur psikologis: menyusun sebuah sample perilaku indikate dalam situasi standard dngan prinsip isomorpishm (realita dan hasil ukur).

KONSTRUKSI TES (sebagai applied psychometrics – thorndike) Ada 2 model pendekatan:

1.Domain.mastery.approach                                                                                        2. Latent trait approach

·         Domain mastery approach -Pendekatan ini mengukur seberapa besar penguasaan testee terhadap rentang pengetahuan (knowledge domain) atau keterampilan yang didefinisikan (skill defined). Disebut pula CRITERION REFERENCE TESTING -Disebut pula sebagai tes presentasi (Achieved tes) di bidang pendidikan dimana definisi dan batas rentang pengetahuan atau skill dibuat secara jelas dan tepat sesuai kurikulum / tujuan instruksionalnya. -Langkahnya secara umum: mendefinisikan batas domain, menentukan stimulus dan responnya, memilih jenis dan ukuran sample dari domain, menentukan kategori “mastery” sesuai tujuan penyusunan  alat ukur ini.

·          Latent trait approach -Pendekatan ini mengukur attribute (karakteristik hopotetik) yang unobservable dan konsisten yang dimiliki seseorang baik besar maupun tarafnya (noun, adjective, maupun adverb) -Meskipun attribute bersifat unobservable namun merupakan konstruk yang berbentuk untuk mengorganisir pengalaman atau perilaku yang konsisten. -Bentuk attribute misalnya termperament aptitude ability. -Skor tes dianggap sebagai representasi dari latent attribute meskipun tidak perfect. -Tidak memiliki batas (atas – bawah) dalam definisinya. -Berhasil tidaknya pengukuran tergantung pengalaman masa lalu dari testee terhadap situasi yang dihadirkan dalam item. -Item disusun tergantung anggapan apa yang mewakili dan tergantung kreativitas penyusun tes.



 PERENCANAAN (UMUM) PENYUSUNAN TES

1.Mendefinisikan tujuan pengukuran alat tulis tsb, apakah tergolong pendekatan domain atau latent attribute.
2.Menyatakan tujuan dan manfaat alat ukur sesuai rencana.
3.Mengidentifikasikan hambatan yang akan dihadapi dalam pelaksanaan, seperti waktu media, kondisi tes.
4.Membuat blue print yang mungkin berdasarkan content specification, topics to be covered, skill to be tapped, sun-ability tobe tested.
5.Menetapkan format-format item: stimulus, response, prosedur scoring. 6.Rencanakan ty out dan analisis data untukmenyeleksi item
7.Menentukan parameter statistik taraf kesulitan, daya beda, realibilitas yang diinginkan sesuai tujuan.
8.Standarisasi prosedur penyajian dan warna statistik.
9.Pelaksanaan pengumpulan data dan evaluasi validitas
10.Menyusun manual tes dan kata pengantar tes.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar