DEFINISI,
TUJUAN DAN KARAKTERISTIK KONSTRUKSI TES PSIKOLIGI
·
Tes performansi maksimum : performansi kinerja terbaik oleh
individu
·
Tes performansi tipikal : mengungkapkan sifat-sifat
kepribadian, sehingga tersamar dan terstruktur.
Hal inilah yang
diukur dengan psikologi. Pengukuran sendiri adalah proses kuantifikasi atribut
dan dapat menghasilkan data yang valid dan dilakukan secara sistematik.
·
Selanjutnya, dalam pembuatan alat ukur beberapa hal yang
perlu diperhatikan adalah :
v Indikator –
indicator perilaku
v Perilaku yang
tampak
Jangan sesekali
membuat pernyataan dalam pengukuran “ factor-faktor yang mempengaruhi” kata Bu
Lola. Ketika sedang membahas skala yang digunakan untuk pengukuran bu Lola
memberikan perbedaan bentuk skala Likert : (SS) Sangat Setuju (S)
Setuju (N) Netral (TS) Tidak Setuju (STS) Sangat Tidak Setuju dan
skala Thurstone : 1 2 3 4 5 sd 10 (untuk pernyataan sangat setuju sd sangat
tidak setuju).
• Kemudian Bu Lola juga
menjelaskan mengenai kelemahan dari skala Psikologi, yaitu :
Atribut psikologi
bersifat latent dan tidak mempunyai eksistensi riil
Atribut – atribut
skala psikologi ditulis berdasarkan indicator perilaku yang jumlahnya terbatas
Respon yang diberikan
subjek terhadap stimulus skala psikologi dipengaruhi oleh variable yang tidak
relevan seperti mood atau suasana yang tidak kondusif dalam pengisian
questioner atau angket.
Atribut psikologi yang terdapat
dalam diri manusia stabilitasnya tidak tinggi.
Intepretasi terhadap
hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara normative
• Objek pengukuran
dapat berupa atribut fisik atau psikologi. Karakteristik skala sebagai alat
ukur dijelasan oleh Bu Lola adalah sbb :
Stimulus berupa
pernyataan yang tidak langsung mengungkapkan indicator perilaku yang hendak
diukur
Skala psikologi
selalu terdiri dari 2 item Respon subjek diklasifikasikan sebagai
jawaban ‘benar’ atau ‘salah’.
|
No
|
Angket
|
Skala
|
|
1
|
Data yang diungkapkan berupa fakta
|
Data yang diungkapkan berupa konstruk atau konsep
psikologis
|
|
2
|
Pertanyaan dalam angket bersifat langsung mengarah kepada
informasi mengenai data yang hendak diungkap. Data tersebut berupa opini atau
fakta yang menyangkut diri responden
|
Pertanyaan dalam skala bersifat tidak langsung dan
untuk memancing jawaban yang merupakan proyeksi dari keadaan diri
subjek yang biasanya tidak disadari
|
|
3
|
Responden tahu persis apa yang ditanyakan dalam angket dan
informasi apa yang dikehendaki oleh pertanyaan tersebut
|
Sekalipun responden memahami isi pertanyaan dalam skala,
namun responden tidak mengetahui arah jawaban yang dikehendaki dan kesimpulan
apa yang sesungguhnua diungkap oleh pertanyaan tersebut.
|
|
4
|
Jawaban terhadap angket tak daoat diberi skor (dalam arti
kualitas/kuantitas) melainkan diberi angka coding atau klasifikasi jawaban
|
Jawaban terhadap item diberi skor melalui proses
penskalaan
|
|
5
|
Satu angket dapat mengungkapkan informasi mengenai banyak
hal (banyak variable)
|
Satu skala hanya mengungkapkan atribut tunggal (satu
variable / undimensional)
|
|
6
|
Data yang diperolah dengan angket tidak perlu diuji
validitas dan reliabilitasnya secara psikometris
|
Data yang diperoleh dengan skala perlu divalidasi secara
psikometris. Karena isi dan konteks kalimat yang digunakan sebagai stimulus
pada skala lebih terbuka terhadap error
|
|
7
|
Validitas dan reliabilitas angket tergantung pada
kejujuran responden dalam menjawab pertanyaan
|
Validitas dan reliabilitas skala tergantung pada kejelasan
konsep atribut yang hendak diukur dan operasionalisasinya.
|
Pernyataan
diatas merupakan ciri pengukuran terhadap performasi tipikal
• Ditengah pembahasan
bu Lola juga mengingatkan kembali pada mahasiswa untuk tugas pembuatan alat
ukur yang diberikan oleh Pak Seta. Tugas tersebut dikumpulkan berupa proposal
pada UTS dan berupa laporan hasil pada saat UAS. Pada tugas pembuatan alat ukur
tersebut bu Lola memberikan masukan pada saat angket yang dibuat perlu di uji
coba kevaliditasannya. Salah satu uji coba tersebut adalah dengan proses
Elisitasi yakni proses wawancara yang dilakukan sebelum penyebaran angket.
Proses ini diperlukan untuk mengetahui apakah fenomena yang akan diukur
benar-benar merupakan fenomena yang terjadi pada suatu populasi tertentu. Maka
dari itu diperlukan proses tersebut agar teruji kevaliditasannya.
• Back to the topic,
berkutnya bu Lola memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara angket dengan
skala dalam pengukuran. Perbedaan tersebut adalah sbb :
• Setelah bu Lola Kasih
penjelasan dari slidenya, sekarang giliran mahasiswa diskusi sesuai dengan
kelompoknya untuk menindaklanjuti tugas kelompok dari Pak Seta yang sebentar
lagi akan dikumpulkan. Formasi seketika berubah dan diskusi dimulai.
Nah…..diskusi ini berlangsung sampai dengan perkuliahan selesai. Sembari
berdiskusi bu Lola beri kesempatan untuk masing-masing kelompok untuk bertanya
mengenai perkembangan tugas membuat alat ukur dan Bu Lola juga kasih beberapa
masukan untuk pedoman mahasiswa membuat alat ukur psikologi.
PERTEMUAN V SKALA
PSIKOLOGI
Pengukuran
merupakan proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan
menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Berbagai alat
ukur telah berhasil diciptakan untuk melakukan pengukuran atribut dalam bidang
fisik seperti berat badan, luas bidang datar, dsb. Namun, pengukuran dalam
bidang non-fisik, khusunya dalam bidang psikologi, masih dalam perkembangan
mungin belum pernah mencapai kesempurnaannya. Beberapa tes dan skala psikologis
standar dan yang telah terstandarkan kualitasnya belum dapat dikatakan optimal.
Terus
berkembang pesatnya teori pengukuran pun memungkinkan kita untuk meningkatkan
usaha guna mencapai keberhasilan dalam penyusunan dan pengembangan alat-alat
ukur psikologi yang lebih berkualitas.
Ada
beberapa alasan pengukuran psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin
tidak akan pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas dan
objektivitas yang tinggi, antara lain :
a. Atribut
psikologi bersifat latent atau tidak tampak, oleh sebab itu, apa yang kita
miliki bersifat konstrak yang tidak akan dapat diukur secara langsung. Dan
batasan konstrak psikologis tidak dapat dibuat dengan akuransi yang tinggi
serta tidak menutup kemungkinan terjadinya tumpang tindih (overlapping) dengan
konsep atribut lain. Di samping itu, konstrak psikologis tidak mudah pula untuk
dioperasionalkan.
b. Aitem-aitem
dalam skala psikologis didasari oleh indikator-indikator perilaku yang
jumlahnya terbatas.
c. Respon
yang diberikan oleh subjek sedikit-banyak dipengaruhi oleh variabel-variabel
tidak relevan seperti suasana hati subjek, kondisi dan situasi di sekitar,
kesalahan prosedur administrasi, dsb.
d. Atribut
psikologis yang terdapat dalam diri manusia stabilitasnya tidak tinggi. Banyak
yang gampang berubah sejalan dengan waktu dan situasi.
e. Interpretasi
terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara normatif. Dalam
istilah pengukuran, bahwa dalam pengukuran psikologi lebih banyak sumber error.
Keterbatasan-keterbatasan
pengukuran dalam bidang psikologi inilah yang menjadikan prosedur konstruksi
skala-skala psikologi lebih rumit.
Menurut
Syaifuddin Azwar (2005:3-4), skala psikologi sebagai alat ukur yang memiliki
karakteristik khusus
a. cenderung
digunakan untuk mengatur aspek bukan kognitif melainkan aspek afektif,
b. stimulusnya
berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang
hendak diukur, melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang
bersangkutan,
c. jawabannya
lebih bersifat proyektif,
d. selalu
berisi banyak item berkenaan dengan atribut yang diukur,
e. respon
subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”, semua
jawaban dianggap benar sepanjang sesuai keadaan yang sebenarnya, jawaban yang
berbeda diinterpretasikan berbeda pula.
Menurut
Cronbach (1970) karakteristik skala psikologis di atas tersebut sebagai ciri
pengukuran terhadap performansi tipikal (typical performance), yaitu
performansi yang menjadi karakter tipikal seseorang dan cenderung di munculkan
secara sadar atau tidak sadar dalam bentuk respon terhadap situasi-situasi
tertentu yang sedang dihadapi. Dalam penerapan psikodiagnostika, skala-skala
performansi tipikal digunakan untuk mengungkapkan aspek-aspek afektif seperti
minat, sikap, dan berbagai variable kepribadian lain, semisal agresivitas,
self-esteem, locus of control, motivasi belajar, kepemimpinan, dsb.
Skala
psikologi biasanya digunakan untuk mengungkapkan konstrak atau konsep
psikologis yang menggambarkan aspek kepribadian individu seperti :
tendensi agresifitas, sikap terhadap sesuatu, self esteem, kecemasan, persepsi,
dan motivasi.
Faktor-faktor yang dapat melemahkan validitas
Validitas
adalah karakteristik utama yang harus dimiliki oleh setiap skala. Sehingga
suatu skala berguna atau tidak ditentukan oleh tinggkat validitasnya. Dalam
rangka itu perancang skala harus mengetahui beberapa faktot yang dapat
mengancam validitas skala psikologi, antara lain :
a. Identifikasi
kawasan ukur yang tidak cukup jelas
Untuk
mengukur “sesuatu” maka sesuatu itu harus dikenali terlebih dahulu dengan baik.
Apabila atribut psikologi sebagai tujuan ukur tidak diidentifikasi dengan
benar maka akan terjadi kekaburan. Kekaburan ini disebabkan perancang skala
tidak mengenali dengan baik batas-batas atau definisi yang tepat mengenai
kawasan (domain) atribut yang hendak diukur.
Ketidaktepatan
identifikasi kawasan ukur dapat pula menyebabkan skala menjadi tidak cukup
komprehensif daalam mengungkapkan atribut yang dikehendaki.
b. Operasionalisasi
konsep yang tidak tepat
Kejelasan
konsep mengenai atribut yang hendak diukur memungkinkan perumusan
indikator-indikator perilaku yang menunjukkan ada tidaknya atribut yang
bersangkutan. Rumusan indikator perilaku berangkat dari operasionalisasi konsep
teoritik mengenai komponen-komponen atau dimensi-dimensi atribut yang
bersangkutan menjadi rumusan yang terukur (measurable). Namun, jika rumusan tersebut
tidak operasional atau pun masih mempunyai penafsiran ganda akan menimbulkan
aitem-aitem yang tidak valid, sehingga menghasilkan skala yang tidak valid
pula.
c. Penulisan
aitem yang tidak mengikuti kaidah
Aitem-aitem
yang maksudnya sukar dimengerti oleh responden karena terlalu panjang ataupun
susunan tata bahasnya yang kurang tepat sehingga mendorong responden memilih
jawaban tertentu saja, yang memancing reaksi negatif dari responden, yang
mengandung muatan social desirability tinggi, dan yang memiliki cacat
semacamnya dihasilkan dari proses penulisan aitem yang tidak sesuai dengan
kaidah-kaidah standar. Aitem seperti itu tidak akan berfungsi sebagaimana yang
diharapkan.
d. Administrasi
skala yang tidak berhati-hati
Skala
yang isinya sudah dirancang dengan baik dan aitem yang ditulis sudah sesuai
dengan kaidah, namun diadministrasikan pada responden dengan sembarangan tidak
akan menghasilkan data yang valid mengenai keadaan responden.
Beberapa
kehati-hatian administrasi ini, antara lain :
1) Kondisi
penampilan skala (validitas tampang)
Skala
psikologi bukan sekedar kumpulan aitem-aitem yang diberkas menjadi satu.
Melainkan dari segi penampilan, skala psikologi harus dikemas dalam bentuk yang
berwibawa sehingga mampu menimbulkan respek dan apresiasi dari responden.
Sekalipun tetap tampil sederhana, namun skala psikologi perlu dikemas secara
indah, diketik dengan pilihan huruf yang tepat, dicetak dengan tata letak yang
menarik. Penampilan skala yang anggun akan memotivasi responden untuk
memberikan jawaban dengan serius sehingga diharapkan dapat diperoleh data yang
valid.
2) Kondisi
subjek
Dalam
hal ini, skala psikologi haris disajikan pada subjek yang secara fisik dan
psikologis memenuhi syarat. jangan mengharapkan jawaban yang valid, apabila
responden harus membaca dan menjawab skala dalam keadaan sakit, lelah,
tergesa-gesa, tidak berminat, merasa terpaksa, dsb.
3) Kondisi
testing
Situasi
juga sangat mempengaruhi hasil skala, misalnya ruangan yang terlalu panas dan
sempit, suasana di sekitar yang bising, tempat duduk yang tidak nyaman,
penerangan yang kurang, ataupun adanya pihak ketiga di dekat responden akan
berpengaruh terhadap perilaku responden.
e. Pemberian skor yang tidak cermat
Kadang-kadang
terjadi kesalahan dari pihak pemberi skor karena penggunaan kunci yang keliru
walaupun sudah disediakan “kunci” skoring, ataupun salah dalam penjumlahan
skor.
f. Interpretasi
yang keliru
Penafsiran
hasil ukur skala merupakan bagian proses diagnosis psikologi yang sangat
penting. Sebaik-baiknya fungsi ukur skala apabila diinterpretasikan dengan
tidak benar tentu akan sia-sia. Kesimpulan mengenai individu atau kelompok
individu akan tidak tepat.
B. Tahap-tahap
penyusunan skala psikologis
Alur
kerja dalam penyusunan skala psikologis, sebagai berikut :
a.
Penetapan.tujuan
Pada
tahap penepatan tujuan ini dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu
memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis
atribut yang hendak diukur.
b. Operasionalisasi
konsep
Peneliti
melakukan pembatasan pada kawasan (domain) ukur berdasarkan konstrak yang
didefinisikan oleh teori yang bersangkutan. Dengan mengenali batasan ukur dan
adanya dimensi yang jelas, maka skala akan mengukur secara komprehensif dan
relevan, sehingga menunjang validitas isi skala.
Misal,
seorang mahasiswa hendak meneliti tentang “konsep diri” siswa, pada tahap ini
sebaiknya ia sudah memahami konstrak teori tentang ‘konsep diri” secara benar.
Misal : pengertian konsep diri, isi konsep diri, struktur konsep diri, faktor
yang mempengaruhi konsep diri, ciri-ciri konsep diri, dan indikator-indikator
konsep diri. Mendasarkan konstraknya peneliti mengembangkan item-itemnya.
c. Pemilihan
bentuk stimulan
Sebelum
penulisan aitem, penyusunan psikologis perlu menetapkan bentuk atau format
stimulus yang hendak digunakan. Bentuk ini berkaitan dengan metode penskalaan.
Dalam pemilihan bentuk penskalaan ini lebih tergantung pada kelebihan teoritis
dan manfaat praktis format yang bersangkutan.
d. Penulisan
aitem/reviu aitem
Sutrisno Hadi
menyebutkan beberapa kaidah dalam penulisan aitem, sebagai berikut :
1) Gunakan kalimat yang sederhana, jelas dan
mudah dimengerti oleh responden, serta mengikuti tata tulis dan tata bahasa
yang baku.
2) Hindari penggunaan kata-kata bermakna ganda
dan memasukkan kata-kata yang tidak berguna.
3) Hindari penggunaan kata-kata yang terlalu
kuat (sugestif, menggiring) karena akan mendorong responden untuk keluar dari
pagar fakta-fakta, serta kata-kata yang terlalu lemah (tidak merangsang) karena
tidak dapat memancing respon yang memadai atau adekuat.
4) Selalu diingat bahwa dalam penulisan aitem
hendaknya selalu mengacu pada indikator perilaku, oleh karena itu, jangan
jangan menulis aitem yang langsung mengacu pada atribut yang akan diungkap.
5) Perhatikan indikator perilaku yang
hendak diungkap sehingga stimulus dan pilihan jawaban tetap relevan dengan
tujuan pengukuran.
6) Perlu menguji pilihan-pilihan jawaban yang
ditulis,adakah perbedaan arti atau makna antara dua pilihan yang berbeda sesuai
dengan ciri atribut yang sedang diukur. Apabila tidak ada bedanya maka aitem
yang bersangkutan tidak memiliki daya beda (discriminating power).
7) Isi aitem tidak boleh mengandung keinginan
sosial ataupun yang dianggap baik dalam norma sosial, karena aitem yang
mengandung norma sosial cenderung akan disetujui dan didukung oleh semua orang
bukan karena sesuai dengan perasaan atau keadaan dirinya, namun karena orang
berfikir normativ.
8) Untuk menghindari adanya stereotype jawaban
atau memberikan jaawaban pada sisi kanan atau kiri tanpa membaca dan
mempertimbangkan dengan diri reaponden, maka sebagian aitem perlu dibuat dalam
arah favorabel (positif) dan dalam arah favirabel (negatif) sehingga responden
akan membaca lebih teliti dan sungguh-sungguh.
e.
Reviu aitem
Reviu
pertama dilakukan oleh penulis aitem sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa
apakah telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap dan apakah
juga tidak keluar dari pedoman penulisan aitem. Setelah itu revieu kedua
dilakukan oleh orang lain yang dianggap kompeten untuk mereviu.
Kompeteensi yang
diperlukan oleh orang yang diminta untuk mereviu :
1) Menguasai
masalah konstruksi
2) Menguasai
masalh atribut yang diukur
3) Menguasai
bahasa tulis standar
Semua
aitem-aitem harus sesuai ketentuan spesifikasi blue-print, jika tidak, aitem
tersebut harus ditulis ulang.
f. Uji
coba
Tujuan
pertama uji coba aitem adalah untuk mengetahui apakah kalimat-kalimat dalam
aitem mudah dan dapat dipahami oleh responden. Reaksi-reaksi responden berupa
pertanyaan-pertanyaan apakah kalimat yang digunakan dalam aitem merupakan
pertanda kurang komunikasinya kalimat yang ditulis dam memerlukan perbaikan.
Tujuan kedua, uji coba dijadikan salah satu jawaban praktis untuk memeperoleh
data jawaban dari responden yang akan digunakan untuk penskalaan atau
evaluasi kualitas aitem secara statistik.
g.
Analisis aitem
Analisis
aitem merupakan proses pengujian parameter-parameter aitem guna mengetahui
apakah aitem memenuhi persyaratan psikometris untuk disertakan sebagai bagian
dari skala.
Parameter
aitem yang perlu diuji adalah daya beda, daya beda aitem memperlihatkan
kemampuan aitem untuk membedakan individu ke dalam berbagai tingkatan
kualitatif atribut yang diukur mendasarkan skor kuantitatif. Misalnya, ingin
menguji motivasi belajar seseorang, maka aitem tersebut bisa menunjukkan
perbedaan individu yng motivasi belajarnya tinggi, sedang dan rendah.
h. Kompilasi
I
Berdasarkan
dari analisis aitem, maka aitem-aitem yang tidak memenuhi persyratan
psikometris harus diperbaiki terlebih dahulu supaya dapat masuk ke dalam skala,
begitu pula aitem-aitem yang telah memenuhi persyatan tidak serta merta dapat
masuk ke dalam skala, karena proses kompilasi harus mempertimbangkan
proporsionalitas skala sebagaimana dideskripsikan oleh blue-printnya. Beberapa
yang perlu diperhatikan dalam mengkompilasi aitem-aitem yang sudah memenuhi
persyaratan, anatara lain :
1) Apakah
suatu aitem memenuhi persyaratan psikometris atau tidak
2) Proposionalitas
komponen-komponen skala seperti tertera dalam blue-print
i.
Kompilasi II
Aitem-aitem
yang terpilih yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah yang telah
dispesifikasikan oleh blue-print, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas. Jika
koefisien reliabilitas kurang memuaskan, maka kembali ke tahap kompilasi dan
merakit ulang skala dengan lebih mengutamakan aitem dengan daya deskriminasi
tinggi
j.
Format akhir
Dalam
format akhir skala sebaiknya ditata dalam tampilan yang menarik tetpai tetap
memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Menurut Syaifuddin Azwar,
ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1)
Perlu dilengkapi dengan pengerjaan dan lebar jawab yang terpisah
2) Ukuran
kertas juga disesuaikan dengan panjangnya skala, agar berkas skala tidak nampak
terlalu tebal yang menyebabkan responden kehilangan motivasi
3) Ukuran
huruf juga perlu mempertimbangkan usia responden.
TES PRESTASI BELAJAR
Tes prestasi belajar
adalah salah satu alat ukur hasil belajar yang dapat mencakup semua kawasan
tujuan pendidikan, Benyamin S. Bloom (dalam Azwar, 2003) membagi kawasan tujuan
pendidikan mejadi tiga bagian, yaitu kawasan kognitif, kawasan afektif, dan
kawasan psikomotorik. Sedangkan Robert L. Ebel 1979 (dalam Azwar, 2003)
menambahkan bahwa fungsi utama tes prestasi dikelas adalah mengukur prestasi
belajar para siswa. Tes prestasi belajar disusun secara terencana
untuk mengungkap apa yang oleh Cronbach 1970 (dalam Azwar, 2003) disebut
sebagai performansi maksimal subjek (maximum
performance).
Banyaknya penggunaan
tes prestasi belajar dalam proses pengambilan keputusan dalam dunia pendidikan,
selanjutnya menempatkan tes prestasi belajar dalam beberapa fungsi, yaitu
fungsi penempatan (placement),
fungsiformatif, fungsi diagnostik dan fungsi sumatif.
Fungsi
Penempatan
Fungsi penempatan adalah penggunaan
hasil tes prestasi belajar untuk klasifikasi individu kedalam bidang atau
jurusan.
Fungsi
formatif
Fungsi formatif adalah penggunaan tes prestasi belajar guna melihat
sejauh mana kemampuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program
pendidikan.
Fungsi
diagnostic
Fungsi diagnostik adalah penggunaan tes prestasi belajar untuk
mendiagnosis kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi kelemahan-kelemahan
siswa yang dapat diperbaiki segera, dan semacamnya.
Fungsi
Sumatif
Fungsi sumatif adalah penggunaan
hasil tes prestasi belajar untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan
pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dalam suatu program pelajaran. Tes
sumatif merupakan pengukuran akhir dalam suatu program dan hasilnya dipakai untuk
menentukan apakah siswa dapat dinyatakan lulus dalam program pendidikan
tersebut atau apakah siswa dinyatakan dapat melanjutkan ke jenjang program yang
lebih tinggi.
PERTEMUAN II TES
INTELEGENSI
PENGERTIAN TES INTELEGENSI
Menurut DAVID WECHSLER inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Intelegensi didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi. dan WILLIAM STERN, intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya. William Stern berpendapat bahwa intelegensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan, pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang.
Intelegensi merupakan keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Intelegensi tecermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya.
Sedangkan tes intelegensi itu sendiri antara lain;
• Suatu pengukuran yang
standar dan obyektif terhadap sampel perilaku.
• Suatu kegiatan
pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik untuk mengungkap
aspek-aspek psikologi tertentu dari individu.
• Seperangkat alat ukur
yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang pikiran, perasaan, persepsi
dan perilaku seseorang guna membuat keputusan penilaian tentang seseorang.
• Tes untuk mengukur
aspek individu secara psikis (tes dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi
secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan
emosional) tes dapat diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa.
• Suatu teknik atau
alat yang digunakan untuk mengungkapkan tarap kemampuan dasar seseorang yaitu
kemampuan dalam berpikir, bertindak dan menyesuaikan dirinya secara efektif.
• Manfaat Tes
intelegensi
Tes intelegensi dapat
dipergunakan oleh berbagai pihak di sekolah antara lain;
• Sekolah, tes
intelegensi dapat digunakan untuk menyaring calon siswa yang akan diterima atau
untuk menempatkan siswa pada jurusan tertentu, dan juga mengidentifikasi siswa
yang memiliki IQ di atas normal.
• Guru, tes intelegensi
dapat digunakan untuk mendiagnosa kesukaran pelajaran dan mengelompokkan siswa
yang memiliki kemampuan setara.
• Konselor, tes intelegensi
dapat digunakan untuk membuat diagnosa siswa, untuk memprediksi hasil siswa
dimasa yang akan datang, dan juga sebagai media untuk mengawali proses
konseling.
• Siswa, tes
intelegensi dapat digunakan untuk mengenali dan memahami dirinya sendiri dengan
lebih baik, dan mengetahui kemampuannya.
• Menganalisis berbagai
masalah yang dialami murid
• Membantu memahami
sebab terjadinya masalah
• Membantu memahami
murid yang mempunyai kemampuan yang tinggi juga yang rendah
Secara umum, tes intelegensi dapat digunakan sebagai bahan diagnosa. Hasil tes belum tentu perlu disampaikan dalam proses konseling, tetapi konselor maupun konseli memerlukan gambaran yang menyeluruh dari diri seorang konseli. Dengan menggunakan hasil tes intelegensi, konselor dapat melakukan diagnosa terkait perkembangan konseli selama dan setelah proses konseling berlangsung. Selain itu, hasil tes intelegensi dapat digunakan sebagai data penunjang. Jika tes yang digunakan tidak hanya tes atau tes intelegensi, maka hasil tes intelegensi dapat digunakan untuk menunjang data yang telah diperoleh dan diperlukan dalam kegiatan konseling.
JENIS-JENIS.TES.INTELEGENSI
Berdasarkan penataannya ada beberapa jenis tes intelegensi, yaitu;
• Tes Intelegensi
individual, tes ini hanya dilakukan oleh satu orang saja.secara.khusus..Tes.Intelegensi.individual.diantaranya.:
-.Stanford.-.Binet.Intelligence.Scale
-.Wechsle.-.Bellevue.Intelligence.Scale.(WBIS)
-.Wechsler.-.Intelligence.Scale.for.Children.(WISC)
-.Wechsler.-.Adult.Intelligence.Scale.(WAIS)
-.Wechsler.-.Preschool.and.Primary.Scale.of.Intelligence.(WPPSI).
Kelebihan pada tes ini antara lain penguji dapat menilai dengan jelas bagaimana individu yang sedang menjalani tes tersebut. Misalnya mengamati bagaimana individu menyusun laporan, minat dan perhatian individu, kecemasan dalam pengerjaan tugas, serta tingkat toleransi menghadapi rasa frustasi. Kekurangan tes ini adalah kurang begitu nyaman.
-.Stanford.-.Binet.Intelligence.Scale
-.Wechsle.-.Bellevue.Intelligence.Scale.(WBIS)
-.Wechsler.-.Intelligence.Scale.for.Children.(WISC)
-.Wechsler.-.Adult.Intelligence.Scale.(WAIS)
-.Wechsler.-.Preschool.and.Primary.Scale.of.Intelligence.(WPPSI).
Kelebihan pada tes ini antara lain penguji dapat menilai dengan jelas bagaimana individu yang sedang menjalani tes tersebut. Misalnya mengamati bagaimana individu menyusun laporan, minat dan perhatian individu, kecemasan dalam pengerjaan tugas, serta tingkat toleransi menghadapi rasa frustasi. Kekurangan tes ini adalah kurang begitu nyaman.
• Tes Intelegensi
kelompok, tes ini dilakukan guna mencari data secara cepat secara serentak. Tes
Intelegensi kelompok diantaranya :
Pintner.Cunningham.Primary.Test..-.The.California.Test.of.Mental
Maturity
-.The.Henmon..-.Nelson.Test.Mental.Ability
-.Otis..-.Lennon.Mental.Ability.Test
-.Progressive.Matrices
-.The.Henmon..-.Nelson.Test.Mental.Ability
-.Otis..-.Lennon.Mental.Ability.Test
-.Progressive.Matrices
Kelebihan pada tes ini antara lain rasa nyaman. Tes ini juga memiliki kekurangan antara lain peneliti tidak dapat menyusun laporan individu, tidak dapat menentukan tingkat kecemasan individu, instruksi yang kurang jelas karena ribut atau peserta yang satu diganggu oleh peserta lainnya.
• Tes Intelegensi
dengan tindakan/perbuatan
PEMAHAMAN
MAHASISWA TENTANG KONSTRUKSI TES
Tujuan instruksional:
1. Mahasiswa mampu
memahami prinsip umum penyusunan alat ukur (tes) psikologis.
2.Mahasiswa mengetahui ciri-ciri alat ukur psikologis yang
memenuhi syarat 3.Mahasiswa mampu mempraktekkan penyusunan alat ukur
psikologis, khususnya tes prestasi dan tes kemampuan.
*Definisi Konstruksi Tes: adalah studi cara penyusunan alat
ukur psikologis (tes) secara ilmiah (sistematis, obyektif,
standard)
*Perbandingan: - Psikodiagnostik
: manfaat praktis alat tes untuk mendiagnosis masalah-masalah psikologis - Sikometri
: teori-teori pengukuran psikologi - Konstruksi Tes : teknis
penyusunan alat tes psikologis
- Penyusunan skala psikologis : bagian dari
kontes khusus untuk data skala Pengertian tes: -Prosedur sistematis untuk
mengukur sample perilaku sso (Brown) -Pengukuran obyektif,
standard, thd sampel perilaku (Anastasi)
-Prosedur sistematis untuk mengamati perilaku seseorang dan
digambarkan dalam skala angka atas kategori tertentu.
(cronbach) Kesimpulan :
1.prosedur sistematis : ada aturan tertentu untuk menyusun
item administrasi dan skoring yang jelas terperinci dan kondisi testing berlaku
sama untuk semua test. 2.Berisi sample perilaku : isi sesuai dengan populasi
perilaku yang didefinisikan. Kualitas diri seberapa representatifnya isi.
3.Mengukur perilaku : merespon thd apa yang diketahui oleh
testee.
4.Format tes : tergantung maksud dan tujuannya.
5.Materi tes : achievement, minat, intelegensi, kepribadian.
6.Tahu tidaknya yang diukur tentang aspek yang akan diukur.
Pengukuran
psikologis: ØAdanya asumsi manusia punya kualitas tertentu yang relative
konsisten sepanjang waktu. Kualitas psikologis atau trait / karakter dikonsepkan
ke dalam konstruk. Konstruk adalah konsep hipotesis hasil imajinasi ilmuwan.
ØKualitas psikologis/atribut merupakan konstruk yang disusun untuk
mengorganisasikan pengalaman terhadap perilaku konsisten yang dapat
dibandingkan satu dengan orang yang lain. Atribut tidak dapat diukur secara
langsung tetapi lewat observable behavior sebagai ludikate yang sah.
ØPenyusunan alat ukur psikologis: menyusun sebuah sample perilaku indikate
dalam situasi standard dngan prinsip isomorpishm (realita dan hasil ukur).
KONSTRUKSI
TES
(sebagai applied psychometrics – thorndike) Ada 2 model pendekatan:
1.Domain.mastery.approach
2. Latent trait approach
·
Domain mastery approach -Pendekatan ini mengukur seberapa
besar penguasaan testee terhadap rentang pengetahuan (knowledge domain) atau
keterampilan yang didefinisikan (skill defined). Disebut pula CRITERION
REFERENCE TESTING -Disebut pula sebagai tes presentasi (Achieved tes) di bidang
pendidikan dimana definisi dan batas rentang pengetahuan atau skill dibuat
secara jelas dan tepat sesuai kurikulum / tujuan instruksionalnya. -Langkahnya
secara umum: mendefinisikan batas domain, menentukan stimulus dan responnya,
memilih jenis dan ukuran sample dari domain, menentukan kategori “mastery”
sesuai tujuan penyusunan alat ukur ini.
·
Latent trait approach
-Pendekatan ini mengukur attribute (karakteristik hopotetik) yang unobservable
dan konsisten yang dimiliki seseorang baik besar maupun tarafnya (noun,
adjective, maupun adverb) -Meskipun attribute bersifat unobservable namun
merupakan konstruk yang berbentuk untuk mengorganisir pengalaman atau perilaku
yang konsisten. -Bentuk attribute misalnya termperament aptitude ability. -Skor
tes dianggap sebagai representasi dari latent attribute meskipun tidak perfect.
-Tidak memiliki batas (atas – bawah) dalam definisinya. -Berhasil tidaknya
pengukuran tergantung pengalaman masa lalu dari testee terhadap situasi yang
dihadirkan dalam item. -Item disusun tergantung anggapan apa yang mewakili dan
tergantung kreativitas penyusun tes.
PERENCANAAN (UMUM)
PENYUSUNAN TES
1.Mendefinisikan tujuan pengukuran alat tulis tsb, apakah
tergolong pendekatan domain atau latent attribute.
2.Menyatakan tujuan dan manfaat alat ukur sesuai rencana.
3.Mengidentifikasikan hambatan yang akan dihadapi dalam
pelaksanaan, seperti waktu media, kondisi tes.
4.Membuat blue print yang mungkin berdasarkan content
specification, topics to be covered, skill to be tapped, sun-ability tobe
tested.
5.Menetapkan format-format item: stimulus, response,
prosedur scoring. 6.Rencanakan ty out dan analisis data untukmenyeleksi item
7.Menentukan parameter statistik taraf kesulitan, daya beda,
realibilitas yang diinginkan sesuai tujuan.
8.Standarisasi prosedur penyajian dan warna statistik.
9.Pelaksanaan pengumpulan data dan evaluasi validitas
10.Menyusun manual tes dan kata pengantar tes.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar